Monday, December 27, 2010

TAGGED UNDER:

Pengalaman Mengirim Naskah ke Penerbit Gramedia

Sebelum menceritakan pengalaman mengirim naskah ke Gramedia, ada baiknya kami berikan sedikit gambaran tentang industri penerbitan buku. Jangan samakan antara penerbit dengan percetakan. Penerbit adalah perusahaan yang berbisnis buku sedangkan percetakan adalah perusahaan yang mencetak buku. Buku dicetak oleh perusahaan percetakan, bukan oleh penerbit. Karena alasan efisiensi, rata-rata penerbit besar memiliki percetakannya tersendiri. Dengan mencetak sendiri, penerbit tidak bisa dipermainkan perusahaan percetakan dan bisa menekan ongkos cetak sehingga harga jual buku bisa jauh lebih terjangkau. Dalam arti yang lebih halus agar lebih menguntungkan.

Semua Orang Bisa Jadi Penerbit

Ya, semua orang bisa jadi penerbit. Itu pun tidak mesti berbadan hukum. Jika ingin menjadi penerbit yang berbadan hukum tentu perlu izin usaha. Penulis yang sekaligus menjadi penerbit sering disebut "self publishing". Menjadi penerbit juga tidak harus memiliki kantor atau berkantor di gedung mewah. Rumah merangkap kantor pun tidaklah masalah. Yang paling penting adalah buku yang kita terbitkan. Bermutu atau tidak, bakal laris dijual atau tidak. Jika ingin menjadi penerbit yang berbadan usaha, izin yang dibutuhkan adalah izin bisnisnya, bukan izin menerbitkan buku. Menerbitkan sebuah buku tidak perlu izin kecuali hasil karya tersebut milik orang lain (penulis lain).

Sejak zaman reformasi, pemerintah tidak lagi membatasi penerbitan buku kecuali yang isinya mengancam keutuhan negara NKRI seperti radikalisme, SARA, terorisme, merusak moral, dsb. Buku pun sudah jarang dibredel apalagi dibakar pakai minyak tanah seperti zaman dulu. Buku yang dikategorikan black campaign biasanya dibalas dengan buku tandingan. Buku dijawab dengan buku. Itulah alam demokrasi yang mencerminkan kedewasaan dan ciri bangsa yang berpendidikan dan berbudaya. Nanti rakyat atau pembaca sendiri yang memutuskannya. Seperti pro kontra buku berjudul "Aku Bangga Jadi Anak PKI", "Gurita Cikeas", dsb. Selalu ada buku tandingannya.

Kalau ternyata isi buku tersebut tidak bagus, nanti yang malu adalah penulisnya sendiri dan yang rugi adalah penerbitnya. Jadi tidak perlu dibredel, didemo, dibakar, dsb..akan kapok sendiri. Jika sebuah buku judulnya dianggap provokatif atau negatif maka tinggal ditulis tandingannya. Misalnya buku berjudul "Aku Bangga Jadi Anak PKI" tinggal saja dibalas buku berjudul misalnya "Untung Bapakku Bukan PKI" atau " Aku Bangga Bukan Anak PKI", dll. Seperti yang pernah ditulis bukan tandingan Gurita Cikeas. Makin dilarang sebenarnya makin laris sebab kadang disengaja sebagai media promosi gratis. Karena heboh maka masyarakat berlomba-lomba membelinya dan ujung-ujungnya penerbit meraih untung.

Self Publishing

Menjadi self publishing tidak perlu berbadan usaha. Yang penting ada sedikit modal seperti desain cover, lalu order ke percetakan. Setelah itu tinggal dipasarkan di seluruh wilayah Indonesia terutama lewat jaringan toko-toko buku terkenal. Biar kelihatan bagus dan sempurna layaknya buku-buku yang ada, mungkin perlu urus izin ISBN-nya, mencantumkan alamat penerbit, dsb. Biasanya perusahaan percetakan besar bisa membantu kita mengurus detilnya atau memberikan petunjuk.

Awas, jangan ditipu percetakan abal-abal. Tidak semua percetakan bisa mencetak buku. Percetakan buku itu percetakan khusus. Tidak sema seperti percetakan blanko, kop surat, kartu nama, spanduk, dsb. Untuk lebih jelasnya mungkin bisa meminta contoh dulu buku-buku yang pernah mereka cetak. Kalau tidak bagus jangan dicetak di sana sebab buku yang jelek penampilannya sudah dijual. Misalnya soal tinta, kertas, tipografi, dsb.

Menerbitkan buku sendiri perlu modal cukup besar. Perusahaan percetakan biasanya hanya melayani minimum order paling tidak 2.500 eksemplar. Kalau satu eksemplar buku modal produksinya Rp 10.000 maka butuh modal setidaknya Rp 25 juta. Itu hanya biaya cetaknya saja loh. Belum soal ilustrasi seperti cover, bikin plat cetak dan biaya pemasaran. Memang terlihat sangat ribet dan butuh biaya, namun jika buku tersebut laris maka dalam beberapa bulan saja bisa jadi jutawan atau miliarder. Sebab dari modal cetak Rp 10.000 bisa saja kita pasarkan dengan harga Rp 25.000 atau Rp 30.000. Jadi semua keuntungan buat kita.

Tetapi jangan tersenyum dulu sebab sangat merepotkan. Kalau mencetak bukunya tidak begitu repot sebab di kota-kota besar apalagi di Jakarta, Bandung, Yogyakarta dan Surabaya pasti ada perusahaan percetakan yang bonafid. Tinggal kita order saja ke sana. Yang repot itu memasarkan buku-buku tersebut. Biar cepat laris harus bisa menjangkau seluruh toko buku di Indonesia. Lalu bagaimana? Cara paling gampang mungkin adalah menitipnya lewat perusahaan khusus yang memasarkan buku-buku. Kalau toko buku yang dekat rumah kita bisa kita titip langsung dengan cara mendatangi dan berbicara dengan manajer purchasing atau customer relation yang bertugas. Buku kita dititip untuk dijual. Hitungannya mungkin setiap semesteran (6 bulan). Jadi setiap 6 bulan kita akan dapat laporan berapa eksemplar buku yang sudah terjual. Kita dibayar dari jumlah buku yang terjual. Istilah bisnisnya adalah sistem titip jual (konsinyasi).

Menerbitkan Buku Lewat Penerbit

Menerbitkan buku lewat penerbit adalah langkah paling mudah dan banyak dilakoni orang bahkan termasuk penulis-penulis ternama. Kita tinggal menulis naskahnya, diketik rapi, diprint out lalu dijilid. Kalau naskahnya sedemikian tebal, penjilidannya bisa dipisah-pisah menjadi beberapa bab. Yang penting rapi. Lampirkan sebuah surat pengantar kemudian kirim ke penerbit. Jangan lupa sertakan perangko balasan seandainya naskah kita ditolak sehingga bisa dikirimkan kembali oleh penerbit ke alamat kita. Jangan sertakan disket atau flashdisk sampai naskah kita dinyatakan lolos. Jika lolos, penerbit yang akan meminta kita mengirimkan softcopy naskah tersebut. Karena zaman teknologi biasanya penerbit (editor yang menangani naskah) akan meminta kita mengirimkan lewat attach file email. Sebagai penulis, memiliki email sangatlah penting dan keharusan. Bisa sebagai sarana komunikasi dengan penerbit dan editor atau dengan fans jika kita sudah terkenal.

Jika naskah kita disetujui, akan diterbitkan dan dipasarkan langsung oleh penerbit. Penerbit mana saja sama sebab mereka sudah ada jaringan pemasarannya. Yang kita lakukan hanya duduk manis saja dan terus menulis. Berdoa supaya buku kita laris diterima oleh pasar (masyarakat). Jika andai satu penerbit menolak naskah kita, kita bisa mengoreksinya dan mengirimkan ke penerbit lainnya. Jika sudah ditolak oleh 10 penerbit rasanya memang naskah kita kurang bagus. Kalau masih tetap ingin menerbitkannya tak ada cara lain kecuali menerbitkannya sendiri (self publishing).

Royalti Penulis

Rata-rata royalti penulis adalah 10% dari nilai jual buku. Mungkin cuma penerbit Andipublisher dari Yogyakarta yang berani memberikan royalti 15% ke penulis. Itu pun dengan catatan kita bukan penulis yang baru pertama kali mengirimkan naskah. Di samping itu penjualan buku kita sebelumnya dianggap Andipublisher cukup sukses. Dengan demikian naskah kita yang kedua bisa diberikan royalti 15%. Cuma sayangnya, dari segi pengemasan buku penerbit Andipublisher Yogya masih kalah jauh dari grup Gramedia, Ufuk, Mizan, Elekmedia, dsb. Namun dibandingkan waktu dulu, sekarang sudah banyak kemajuan. Bagaimanapun juga, kemasan akhir buku juga sangat mempengaruhi minat pembeli selain isi buku itu sendiri. Ukuran buku, penggunaan warna sampul, tipografi, kerapatan huruf, dsb...sangatlah penting. Paling utama tetap otak si penulis atau pengarang itu sendiri.

Royalti penulis dihitung per 6 bulan sekali dari total buku yang terjual. Bukan yang diterbitkan loh! Contohnya begini: jika royalti kita 10% sedangkan harga buku yang kita tulis dijual Rp 50.000 maka setiap buku yang terjual kita mendapatkan royalti Rp 5.000. Jika dalam 6 bulan terjual 1.000 eksemplar maka kita mendapatkan bayaran Rp 5.000.000 sebelum dikurangi pajak penghasilan royalti sekitar 15%. Nanti penerbit yang akan menguranginya sendiri dan ada laporannya. Sisanya akan langsung ditranfer ke rekening kita. Pokoknya tinggal terima beres saja. Inilah enaknya menerbitkan buku lewat penerbit. Jika buku kita laris terjual misalnya 10.000 eksemplar, tinggal dikalikan saja. Gampang deh!

Karena royalti yang minim - belum dipotong pajak royalti - otomatis untuk  hidup sebagai penulis di Indonesia sangatlah berat. Sangat sulit bertahan hidup hanya mengandalkan royalti buku. Maklum, konsumsi atau penjualan buku di tanah air masih rendah. Orang lebih suka membeli sebungkus rokok daripada membeli sebuah buku untuk dibaca. Saran kami jangan menjadikan profesi penulis buku sebagai pekerjaan utama sebab sangatlah berat. Tidak akan cukup untuk membiayai kebutuhan hidup kita sehari-hari. Namun kalau hanya sebagai pengisi waktu, hobby, membagikan ide, aktualisasi diri, menyalurkan idealisme, ya sangat dianjurkan. Dengan menulis sebuah buku yang kaya pengalaman akan membuat kita terkenal, diundang seminar, menjadi pembicara, konsultan, dsb.

Kaya dari Menulis Buku

Menjadi kaya dari profesi penulis meski memungkinkan namun butuh perjuangan super ekstra. Situasi ini berkebalikan dengan negara-negara maju seperti Amerika, Eropa atau Jepang. Di sana penikmat dan pencinta buku sangatlah banyak seperti penikmat tembakau, kopi bahkan alkohol. Makanya tak heran penulis novel di sana bisa menjadi miliuner dalam sekejap apalagi ketika novelnya diangkat menjadi cerita film layar lebar. Orang yang bisa menulis buku atau novel dianggap jenius, pintar dan hebat. Sebab menulis bukan perkara mudah. Selain itu industri perfilman di sana sangat berkembang dan membutuhkan ide-ide cerita novel yang bagus. Semua itu adalah karya penulis.

Profesi penulis di negara-negara maju sangatlah prestisius. Namun di Indonesia bisa berkebalikan. Banyak penulis malu berkata bahwa mereka adalah penulis. Padahal kalau kita menggunakan semua perangkat pasti ada buku panduan yang ditulis oleh penulis. Tanpa ada yang menuliskannya, tidak ada seorang pun yang bisa menggunakan alat-alat tersebut. Contoh lainnya adalah mesin pencari (search engine) seperti Google, Yahoo, Baidu, Bing, dsb. Tanpa ada penulis, tidak ada gunanya semua mesin pencari. Sebab tidak ada kata-kata atau kalimat yang bisa dicari manusia. Jadi mulai sekarang Anda harus bangga menjadi penulis atau memiliki jiwa seorang penulis. Mungkin butuh waktu dan pengalaman sehingga Anda akan menikmati setiap kreasi jiwa dan kreatifitas otak seperti ini.

Mengirimkan Naskah ke Penerbit Gramedia

Mengirimkan naskah ke penerbit mana saja pada intinya sama. Ada etiketnya dan tidak boleh ngawur. Kita tidak boleh mengirimkan naskah yang sama secara serentak ke semua penerbit. Bisa-bisa saja cuma jika ada 2 penerbit atau lebih yang kebetulan setuju dengan naskah kita, kita akan menciptakan perselisihan di antara mereka. Jika kita lebih memilih penerbit satunya dari yang lain, otomatis penerbit yang dicuekin tersebut kan menolak naskah kita di kemudian hari. Istilahnya kita di-blacklist dianggap tidak profesional. Kita dianggap meremehkan mereka. Jadi ngirimnya harus satu per satu.

pengalaman mengirim naskah ke gramedia
Pengalaman mengirimkan naskah ke penerbit Gramedia Jakarta. Image: konsumenreview.com

Tunggu setelah naskah kita selesai diperiksa dan dinilai dari berbagai sudut pandang. Biasanya sekitar 3 bulan tergantung banyak faktor. Jika naskah kita sudah ditolak dan dikembalikan, baru kita tawarkan ke penerbit berikutnya. Sebelum mengirimkan naskah, ada baiknya memahami beberapa panduan seperti di bawah ini:

  • Penulis terkenal - Naskah bagus
  • Penulis tidak terkenal - Naskah bagus
  • Penulis terkenal - Naskah jelek
  • Penulis tidak terkenal - Naskah jelek

Naskah yang paling disukai semua penerbit adalah nomor #1 dan #2. Pada intinya naskahnya harus bagus. Berhubung kita adalah penulis pemula, sudah pasti belum terkenal jadi usahakan harus bagus naskahnya. Maksud naskah bagus ini adalah ide tulisan, ide cerita, kelengkapan materi, dsb. Kategori #3 di mana penulis sudah terkenal tetapi naskahnya jelek masih bisa diterbitkan namun mungkin dengan sedikit kreasi atau tambahan dari pihak penerbit. Misalnya soal sponsor, dsb.

Bagi yang ingin mengirimkan naskah buku baik fiksi atau nonfiksi ke penerbit Gramedia, mungkin bisa menggunakan alamat di bawah ini:

PT. Gramedia Pustaka Utama
Gedung Kompas Gramedia, Blok I, Lantai 4 & 5
Jl. Palmerah Barat 29-37, Jakarta 10270
Telp: 021 - 53650110 atau 53650111
Email: nonfiksi@gramediapublisher.com atau fiksi@gramediapublisher.com

Rentang waktu penilaian naskah tiap-tiap penerbit bisa berbeda-beda dan banyak faktornya. Karena penerbit adalah perusahaan yang juga mencari untung dari penerbitan buku, tentu saja faktor nilai jual naskah sangatlah penting. Kalau buku yang diterbitkan tidak laku dijual penerbit akan rugi besar. Siapa yang mau menanggung kerugian seperti ini? Jadi penerbit akan melakukan analisa pasar terhadap buku yang kita tulis. Apakah isinya bagus, apakah sedang ngetren, apakah sudah ada buku saingan di pasar, dsb.

Waktu penilaian kurang lebih 3 bulan. Jadi kalau ditolak 10 penerbit butuh waktu 2,5 tahun dan sangat lama. Sudah keburu basi ilmu atau isi buku yang ingin kita bagikan ke pembaca. Itulah salah satu dilema menerbitkan buku lewat penerbit yang juga harus kita pikirkan. Kami akan membagikan pengalaman berikutnya di tulisan mendatang. Semoga bermanfaat!

Sponsored links:

46 comments:

  1. makasih banyak infonya sangat bermanfaat. selain penerbit andi jogja, ada lg nggak yg ksh royalti bagus buat penulis. lalu kalau kita mau menerbitkan sendiri buku kita bgmana caranya? diah bogor

    ReplyDelete
  2. Pengalaman yang menarik.
    Kira -kira penerbit lain yang memberi peluang lebih besar umtuk menerima naskah para penulis baru mana saja ya... kalau tahu tolong di share infonya..

    ReplyDelete
  3. jika Anda tau, kira2 berapa eks biasanya pada cetakan pertama yg dicetak oleh penerbit Andi Yogyakarta?.. dan jika sebelumnya penulis adalah pertama mengajukan ke penerbit Andi (namun bukan pemula, karena sudah menerbitkan beberapa buku pada penerbit lain, misalnya Elex Media Komputindo, dan penerbit Yogyakarta lainny), apakah penerbit Andi berani memberikan royalti 15%?..

    thx..

    ReplyDelete
  4. Sekarang banyak penerbitan alternatif seperti Leutikaprio.com, nulisbuku.com, pro.indie-publishing.com dll yang menerbitkan buku secara SELF PUBLISHING alisa menerbitkan buk sendiri (INDIE). Ada yang gratisan dan ada juga yang bayar penerbit untuk fasilitas desain cover, layout dan editing naskah serta pengurusan ISBN. Kelemahannya pangsa pasarnya yang sedikit karen hanya dijual online

    ReplyDelete
  5. Mau tanya tentang penerbit Andi. Berdasarkan pengalaman agan2, apa pnerbit Andi memberikan royalty awal (sebelum buku terjual) atau setelah 6 bulan pnjualan bagi penulis yg bru menrbitkan buku pertamanya? Thanx bfore.. :)

    ReplyDelete
  6. Aku punya cita2 jadi penulis kang hehe :) smentara dikumpulin di blog hehehe

    ReplyDelete
  7. Sesulit itukah untuk tembus ke GRAMEDIA? saya udah browsing sana-sini semuanya mengatakan demikian. Saya baru saja menyelesaikan naskah saya yang pertama dan baru akan mencoba untuk mengirimnya ke GRAMEDIA. Apa kemungkinan besar di tolak? Jujur, saya jadi down. Tapi saya memilih untuk tetap mengirim naskah saya ke sana. Modal Nekat!!!

    ReplyDelete
  8. Pengalaman saya sedikit berbeda. Buku saya sudah pernah diterbitkan oleh salah satu anak perusahaan Gramedia. Jadi bukan penerbit Gramedia nya sendiri, tapi masih masuk Gramedia group.
    Proses pengajuan naskah dan penerimaan berjalan cukup baik. Pencetakan dan distribusi buku juga berjalan lancar.
    Sesuai perjanjian, setelah buku terbit, saya langsung menerima 20% dari total royalti (yaitu 20% x persentase royalti x jumlah eksemplar cetak x harga jual)
    Sesuai perjanjiannya, saya akan menerima laporan penjualan setiap 6 bulan dan jika penjualan eksemplar sudah melampaui 20% dari total yang dicetak, saya akan menerima royalti berikutnya.
    Akan tetapi, masuk ke 6 bulan, tidak ada berita apa-apa yang saya terima.
    Sampai saya sendiri lupa karena berbagai kesibukan lainnya.
    Kemudian, 1.5 tahun setelah terbitan awal (awal 2010), saya terima sebuah laporan yang isinya ringkasan penjualan selama 1.5 tahun terakhir, saya juga akhirnya menerima pembayaran royalty yang belum dibayar.
    Berhubung menurut laporan terakhir, sisa buku saya yang belum terjual sangat sedikit, maka saya menanyakan soal cetak ulang. Heran nya, pertanyaan saya tentang cetak ulang ini tidak pernah mendapatkan jawaban yang jelas "iya" atau "tidak". Saya cuma diberitahu "soal cetak ulang bukan ke saya, harusnya ke X" dan X yang direfer sudah saya kontak berkali2 tanpa respon sama sekali.

    Berdasarkan kontrak penerbitan yang saya tandatangani, apabila buku habis dan penerbit atau penulis tidak menghendaki cetak ulang, maka dalam 1 tahun hak atas naskah kembali ke penulis. Ini sangat penting, agar saya bisa mencari penerbit lain untuk menerbitkan naskah saya.
    Akan tetapi, hingga 2012 ini, status cetak ulang naskah saya dibiarkan tanpa jawaban, membuat saya juga sulit bergerak mencari penerbit baru, karena saya berusaha mentaati kontrak awal saya.

    Apabila ada yang punya pengalaman serupa, apa boleh di share, siapa yang bisa saya kontak untuk kasus seperti ini?

    ReplyDelete
  9. ikutan nimbrung ya... saya baru saja selesai menulis sebuah naskah buku, dan berencana mengirim ke penerbit gramedia ada pertanyaan yang mungkin agan2 semua bisa bantu jawabanya :
    "Naskah yang akan kita kirim apakah harus sudah berbentuk buku jadi lengkap dengan hardcover, cover depan, cover belakang, design layout serta accecories lainya atau hanya naskah yang di print out saja ? mohon dibantu informasinya thanks jawaban tolong di kirim ke email : eddy.architect@gmail.com

    ReplyDelete
  10. Permisi, mau ikutan sedikit. Andai ada teman kita di luar negeri yang ingin menulis sebuah buku, bagaimana ya prosedurnya, apa harus tetap mengirimkan printoutnya ke penerbit (Gramedia), atau boleh melalui email?
    Terimakasih atas penjelasannya.

    ReplyDelete
  11. saya sudah punya novel sendiri yg diterbitkan oleh penerbit andi jogja. apa saya sudah bisa disebut punya nama dalam jagat kepenulisan? apakah kemungkinan mudah tembus bila ingin mengajukan naskah ke penerbit lainnya?

    ReplyDelete
  12. Terimakasih pak artikelnya bermanfaat sekali.
    Mau tanya, apakah naskah buku tidak bisa dikirim paralel ke beberapa penerbit sekaligus? Kenapa harus menunggu pembatalan dari penerbit baru diajukan ke penerbit lain?
    Terimakasih.

    ReplyDelete
  13. hellooo...
    mau tanya dunk, kalo kita ngirim naskah novel ke penerbit melebihi batas halaman yang ditentukan apakah tidak ada toleransi?
    Misal aturan penerbit maks halaman 150, tapi naskah yang saya buat hingga 200 halaman.

    Apakah naskahku ini akan ditolak?

    ReplyDelete
  14. makasih banyak atas infonya. saya sangat puas setelah membaca. dengan begini saya telah tau bagaimana cara mengirim hasil karya saya ke penerbit. terima kasih

    ReplyDelete
  15. sepupu saya juga bilang, lebih baik Self Publishing aja, hasilnya kita nikmati sendiri. daripada pake penerbit, udah editornya lama, royalti cuma 10% lagi. ruginya di kita sendiri, apalagi kalau buku kita bagus. tapi masalahnya sekarang, gak gampang cari uang 30jt buat cetak buku sama ngejual lagi -_- apa bisa yah minjem di bank, pake alasan apa???

    ReplyDelete
  16. Misi agan2, saya mau sharing pengalaman saya ya. Hehe
    saya ini penulis pemula, dan kebetulan tahun lalu saya mengirimkan naskah pertama saya ke Gramedia. Kemudian bulan februari kemarin, saya mendapat surat pemberitahuan dari GPU yang isinya naskah saya akan diterbitkan dan saat ini masih dalam proses antrian untuk diedit. Jadi saya mau ralat artikel diatas, untuk penulis pemula jangan ragu untuk kirim naskah ke penerbit besar. Kalau naskah kita memenuhi syarat mereka, pasti diterbitkan. Hehe

    Nah untuk prosedur penerbitan sendiri, memang agak lama. Sampai sekarang aja saya masih menunggu. Tapi itulah resiko kalau mau diterbitkan oleh penerbit sekaliber gramedia karena bukan cuma naskah kita saja yang menumpuk di sana. Kecuali mungkin kalau kita sudah punya beberapa buku dan naskah kita dinanti banyak pembaca, itu baru terbitnya bakalan cepet.

    Terima kasih :D

    ReplyDelete
  17. Informasi yang menarik, bisa menjadi referensi bagi yang ingin mengirimkan naskah ke penerbit yang bersangkutan.

    ReplyDelete
  18. Luar biasa sekali tulisannya..
    saya mendapatkan pengalamn baru.

    beberapa mnggu yg lalu sya "Persembahan Tania" diterbitkan oleh Leuitkaprio. Pihak penerbit hanya mempromosikan secra online. Saya tidak ingin bergantung pada penerbit, karena saya ingin novel ini bisa dikonsumsi khalayak luas.
    saya memesan beberapa eksemplar, lalu saya mendatangi beberap toko buku selain "Gramedia" untuk menjalin kerjasama. Alhamdulillah ada beberapa toko buku yang bersedia menjual Novel saya.

    Tidak cukup sampai disitu, bentuk promosi lainnya ttp sya lakukan. kali ini dibantu oleh shbt2 sya. Dimulai dri pamflet, stiker, poster dll. saat ini msh masuk tahap produksi. memang btuh biaya u/ proses produksi ini, tapi ini pengorbanan untuk sebuah prestasi. karena bila kita sudah memiliki prestasi di dunia penulisan, InsyaAllah materi akan mengikuti.

    Hanya sedikit pengalaman dan rencana yg bisa saya bagi. semoga pembaca terinovasi. :)

    Saya masih ingi sharing dengan anda semua. silahkan follow twitter @Tantia789, add FB Tantiana Budiarti, dan blog Tantiadocpholis.blogspot.com (sedang dalam perbaikan)

    ReplyDelete
  19. 3 bln yg lalu sy mengirimkan naskah ke PT Gramedia tp sampai skrg kok blm ada kbr ya? kmn sy mencari infonya ya? makasih

    ReplyDelete
  20. Terimakasih atas infonya ! Ini bener benar bermanfaat.. Saya terinspirasi menjadi seorang penulis , namun selalu saja ada hambatan yang menghambat! Tapi saya yakin pasti bisa

    ReplyDelete
  21. wah, thanks .... pertanyaan di kepala saya terjawab sudah ... 1 naskah hanya boleh dikirim ke 1 penerbit dahulu .... tapi ruginya kita harus menunggu lama untuk mendapat jawabannya :)

    nah kalau punya 2 naskah, masing2 dikirim ke penerbit berbeda, seandainya kedua naskah diterima oleh kedua penerbit yang berbeda, menyalahi ngga ya ?

    ReplyDelete
  22. This comment has been removed by the author.

    ReplyDelete
  23. makasih buat penulis dan temen2 diatas yang sharing. memotivasi.
    baiklah, mulai sekarang akan ku make up lagi naskahku yang sudah lama terbengkalai.
    semangat semua!

    ReplyDelete
  24. wah, cerita sharenya seru sekali. untuk penerbitkan/menjual buku barun hanya menawarkan saja menunggu waktu 3bln, bgm ya cara kerja management gramed, koq tidak sistematis
    saya penulis baru yang sedang amat bingung, apakah tulisan saya lempar ke penerbit atau jd self publishing saja. karena membaca artikel bapak saya jadi ngeri - ngeri sedap untuk mengirim naskah ke gramedia. tp untuk jadi self publishing itu sepertinya rumit sekali ya, mohon bantuan info nya ya. tq so much

    ReplyDelete
  25. gan , -_- mang nerbitin novel itu hrs bayar apa ya??
    mohon balasannya

    ReplyDelete
  26. halo mas/mbak, mau tanya-tanya donk..
    jadi bulan januari kemarin, tanggal 4 saya mengirimkan naskah novel ke Gramedia, dan diterima oleh sekretaris bagian fiksi, ibu frida.
    dan kemarin, tanggal 3 april (sudah 3 bulan)saya telepon ke gramedia menanyakan kabar naskah saya, ternyata masih di redaksi, masih di editor. kata ibu frida, coba telepon lagi ke gramedia di pertengahan april.
    kira-kira kemungkinan novel saya diterbitkan seberapa besar ya? karena sudah lebih dari 3 bulan.

    Terima kasih mas/mbak

    ReplyDelete
  27. artikelnya bagus... saya punya pengalaman yang sama. buku pertama saya diterbitkan Andi, oke kerjanya. terus dulu pas di gramedia, surat penolakannya saya nunggu setahun lho! setahun! hihihi

    ReplyDelete
  28. buat muadzin,

    kalau saran dari seorang penulis amerika(dia nulis fiksi and non fiksi and kasih pelatihan-pelatihan dari fiksi sampai disertasi doktoral) begini - mengenai "dilarang keras kirim ke beberapa penerbit secara pararel" : itu kan peraturan penerbit! bukan peraturan penulis! dia sarankan langsung kirim penawaran naskah ke misalnya 26 penerbit. dari 26 ini saja (sebagai pemula aku pernah kirim penawaran ke 30 penerbit hehehe...), 10 mungkin tidak akan direspon alias didiamkan aja, 5 mungkin alamat email/alamat surat sudah ganti (kan email gratis mudah ganti ganti) dari yang terdaftar (di IKAPI misalnya), 5 email lagi bounched back karena full/atau alamat tak dikenal lagi, 1 direspon tapi penulis mesti beli bukunya 1000-1500 eksemplar), 2 direspon tapi tak lolos seleksi, and 2 atau 3 penerbit ada yang mau menerima naskah kita (tu total dah 26 atau lebih yak? pokoknya kyk gt d kira2...). nah bila ada 2 penerbit yang tertarik, tinggal penulis yang berhak pilih penerbitnya n bilang ke penerbit lain naskahnya mau ditarik misalnya karena mw direvisi, tapi ini sebelum teken kontrak agreement yak..

    ReplyDelete
  29. eh ternyata byk juga ya menunggu dg harap2 cemas kabar dr penerbit ttg naskahnya. dlm waktu sampai 1 thn pula..

    ada kok penerbit terkenal yang kasih info maksimal 1 bulan. bahkan ada yng dalam 2 minggu ngabarin tertarik mo nerbitin. ada juga yang minta waktu 3 bulan.

    so, saran dari penulis amrik tu aku kira encourage para penulis d.. and juga melegakan.. so, mengapa tak dicoba?

    o ya, jangan bohong, komentar aku bag. akhir di atas maksudnya, naskah ditarik mau direvisi and ada penerbit lain gt d..

    selamat mencoba!

    ReplyDelete
  30. Kalo menurutku ga apa apa kita mengirimkan naskah ke lebih dari satu penerbit.selama itu dalam bentuk naskah,kecuali sudsh teken kontrak baru jadi masalah.kalo pada akhirnya ada 2 atau lebih penerbit yang mau terima itu keputusan kita mau diterbitin sama siapa. Selama belum teken kontrak sih ngga masalah

    ReplyDelete
  31. gmana caranya agar karya kita bisa dimuat dikoran atau di majalah?

    ReplyDelete
  32. Saya sudah dua kali ditolak gramedia. Bagi saya gramedia adalah penerbit yang sangat hebat selain namanya yang hebat. Mereka menghargai setiap penulis, tidak didiamkan begitu saja tanpa kabar jika naskah tidak lolos. Gramedia dengan senang hati mengembalikan naskah kepada penulis jika tdak bisa diterbitkan. Penghargaan itu membuat saya dihargai sebagai penulis. Paling tidak ada kabar bahwa naskah saya masih perlu perbaikan.
    Saya berencana mengirimkan kembali naskah ke gramedia, kali ini bentuk nonfiksi, berharap dimuat walau kecil kemungkinannya mengingat nama saya sudah tak mereka ingat lagi, krna rentang waktu saya mengirim naskah pada tahun 2009, 2013 baru kembali memulai kirim kesana.
    Satu hal yang membuat saya termotivasi ke gramedia, karena ini penerbit yang "membaca" karya penulis lalu dikembalikan jika tak layak. Beda dengan penerbit lain yang sampai bertahun-tahun tak jelas naskah kita ditolak aplagi diterima.
    mari sama-sama menulis, jika tak diterbitkan, kita sudah bisa menuangkan isi kepala ada tulisan yang bisa kita baca sendiri kapan-kapan. Menulis itu agar menghilangkan lupa bukan?

    ReplyDelete
  33. Dan kalau < Anda ingin menerbitkan buku sendiri
    saya siap membantu, dari naskah yang masih dalam konsep
    dari tulisan pensil............. namum sudah lengkap. saya siap
    membantu Anda untuk mewujutkan impian anda sebagai penulis, siap membantu untuh desain cover, ketik naskah.
    layout asal udah ada kesepakatan dari anda dan ber ISBN
    ISBN tak poerlu ada tambahan biaya , sepeserpun

    ReplyDelete
  34. Bai ruindra , itu pengalaman yang sangat menyenangkan
    dan mengakui secara gentleman yaaa mungkin naskah belum layak / gimana , numpang disini, cetak sendiri aja
    murah kok !!!!!

    ReplyDelete
  35. Terima kasih infonya. Saya Felix, saya sudah punya 3 cerita. 2 cerpen, dan 1 novel. Saya ingin menerbitkan karya saya yang berupa novel. Seandainya, saya mengirim pertama pada penerbit, dan satu di blog, apakah tidak apa-apa?
    Thankyou

    ReplyDelete
  36. Artikelnya menarik (Y)
    Saya juga tertarik menerbitkan karya fiksi ke penerbit gramedia. Apa selain print out harus disertai dengan cover juga?
    Terima kasih

    ReplyDelete
  37. Ada contoh surat pengantar buat ngirim naskah ke gramedia?

    ReplyDelete
  38. percetakan khusus untuk buku di jakarta dimana yah? Ketemunya yang nyampur sama jasa2 lain, seperti majalah dll, harga jadi tidak masuk hitungan :|

    ReplyDelete
  39. self-publishing harus berbayar. apa berarti, penerbit2 ternama tidak harus berbayar. karena jika berbayar itu cukup sulit karena biaya yang cukup besar.

    ReplyDelete
  40. sangat informatif dan saya ingin menjadi penulis...

    ReplyDelete
  41. Baru tau penerbitan buku begini caa kerjanya .. :D
    Thanks infonya (y)

    ReplyDelete
  42. Apakah gramedia menerima naskah cerpen anak ?
    Bila menerima bagaimanakah kriteria cerpen agar bisa diterbitkan oleh gramedia ?
    Terima kasih

    ReplyDelete
  43. itu royaltinya per buku apa bagaimana?

    ReplyDelete
  44. hallo gan. saya cuma penulis amatiran dari lampung. gini gan aku gak nemuin penerbit deket-deket tempat aku. kira-kira agannya punya alamat penerbitan yang rada-rada deket gak sama lampung? soalnya saya sering salah nulis alamat rumah. saya juga minta sarannya soalnya saya punya lebih dari 5 naskah novel tapi, sering putus dijalan. kasih saya nasehat biar saya gak malu ngirimin naskah saya keperbit gan. makasih

    ReplyDelete
  45. Terima kasih informasinya.. Saya mau tanya, kalo buat buku non fiksi seperti buku tentang komputer/internet baiknya di kirim ke penerbit atau dibuat ebook lalu di jual di marketplace di internet?
    terus bagaimana prospek bisnis ebook dibanding dengan buku cetak, lebih baik kah? bisa dijelaskan? heheh

    ReplyDelete
  46. Kak , saya mau tanya itu pembuatan naskah novelnya seperti bikin cerita biasa aja kan ? Gak usah bikin box dan sinopsisnya itu sebelum naskah atau sesudah naskah , taruh gambarnya dimana?

    ReplyDelete

Silakan berkomentar sesuai pengalaman masing-masing dengan mematuhi aturan yang berlaku.

About

KonsumenReview.com adalah situs review dari konsumen untuk konsumen di Indonesia. Dapatkan berbagai ulasan tentang produk (merek, jenis, barang dan jasa) dari menu yang tersedia dan lihatlah apa kata orang tentangnya. Pilih yang terbaik dari semua yang ada!

Comment Rules

Untuk mencegah modus penipuan, kami mensupervisi setiap komentar. Komentar di luar topik, bersifat destruktif, menampilkan link, website, telepon atau email akan dihapus. Yang boleh disertakan hanyalah merek, nama toko atau alamat. Untuk berkomentar, gunakan akun Google Anda.

Smart Konsumen

Translate

© 2010 KonsumenReview.com, Designed by Bloggertheme9, Published By Gooyaabi Templates
Powered by Blogger, Supported by Google Webmaster, Advertised by Google AdWords, Monetized by Google Adsense.
back to top