Senin, 27 Desember 2010

Pengalaman Mengirim Naskah ke Penerbit Gramedia

Logo penerbit Gramedia. Image: koprol.com.
Ini bukan review tapi berbagi pengalaman tentang dunia penulis. Apakah Anda seorang penulis atau calon penulis? Apakah Anda sedang berpikir untuk menawarkan naskah ke penerbit? Kalau iya, mungkin pengalaman kami ini bermanfaat.

Industri penerbitan buku

Sebelum menceritakan pengalaman mengirim naskah ke Gramedia, ada baiknya kami berikan sedikit gambaran tentang industri penerbitan buku. Jangan samakan antara penerbit dengan percetakan. Penerbit itu perusahaan yang berbisnis di penerbitan buku sedangkan percetakan itu adalah perusahaan yang mencetak buku. Buku dicetak oleh perusahaan percetakan (bukan oleh penerbit). Karena alasan efisiensi rata-rata penerbit besar memiliki percetakannya tersendiri. Dengan mencetak sendiri, penerbit tidak bisa dipermainkan perusahaan percetakan dan bisa menekan ongkos cetak sehingga harga jual buku bisa jauh lebih terjangkau. Dalam arti yang lebih halus agar lebih menguntungkan.

Semua orang bisa jadi penerbit dan tidak mesti harus berbadan hukum. Jika ingin menjadi penerbit yang berbadan hukum tentu perlu izin usaha. Penulis yang sekaligus menjadi penerbit sering disebut "self publishing". Menjadi penerbit juga tidak harus memiliki kantor atau berkantor di gedung mewah. Rumah merangkap kantor pun tidak masalah. Yang paling penting adalah buku yang kita terbitkan tersebut. Bermutu atau tidak, bisa laris dijual atau tidak. Jika ingin menjadi penerbit yang berbadan usaha, izin yang dibutuhkan adalah izin bisnisnya. Bukan izin menerbitkan buku. Menerbitkan sebuah buku tidak perlu izin kecuali hasil karya tersebut milik orang lain (penulis lain). Namun jika menerbitkan buku karya sendiri tentu tidak perlu izin.

Sejak zaman reformasi, pemerintah tidak lagi membatasi penerbitan buku. Terkecuali buku yang isinya mengancam keutuhan NKRI (radikalisme, SARA, terorisme, merusak moral, dsb.). Buku pun sudah jarang dibredel apalagi dibakar pakai minyak tanah seperti zaman dulu. Buku yang dikategorikan black campaign biasanya dibalas dengan buku tandingan. Buku dijawab dengan buku. Itulah alam demokrasi yang mencerminkan kedewasaan dan ciri bangsa yang berpendidikan dan berbudaya. Seperti contoh pro kontra buku berjudul Aku Bangga Jadi Anak PKI, Gurita Cikeas, dsb.

Tidak perlu dibakar, dibredel, ngotot dilarang, dsb..dsb.. seolah-olah rakyat masih bodoh, tidak bisa menilai sendiri mana yang benar mana yang salah, merasa dirinya paling suci, paling pintar, paling benar, dsb. Kalau merasa sebuah buku judulnya atau isinya negatif tinggal ditulis tandingannya. Misalnya untuk buku berjudul "Aku Bangga Jadi Anak PKI" mestinya dibalas dengan buku "Aku Bangga Bukan Jadi Anak PKI" atau mungkin "Untungnya Aku Bukan Keturunan PKI", dsb. Persis seperti yang dilakukan penulis buku tandingan Gurita Cikeas. Makin dilarang makin laris dan bahkan itu disengaja sehingga bisa menjadi media promosi gratis. Pembeli berlomba-lomba dan akhirnya penerbit diuntungkan.

Self Publishing

Menjadi self publishing tidak perlu berbentuk badan usaha. Asal ada modal tinggal desain cover lalu order ke perusahaan percetakan. Setelah jadi tinggal dipasarkan ke sejumlah toko buku. Biar buku terlihat bagus dan sempurna, mungkin bisa urus izin ISBN-nya, mencantumkan alamat penerbit, dsb.. seperti yang biasa tampil di sebuah buku. Biasanya percetakan besar bisa membantu kita mengurus detilnya atau memberikan petunjuk.

Awas, jangan sampai ditipu percetakan abal-abal yang cuma bisa cetak blanko, kop surat, kartu nama, dsb.. lalu berkata bisa mencetak buku. Mencetak buku itu percetakan khusus. Yang ada malah buku tersebut diorder lagi ke percetakan lain sehingga menambah biaya. Harap selalu melihat contoh-contoh judul buku yang sudah pernah mereka cetak, perhatikan tintanya, mutu kertasnya, dsb. Sebab sebuah buku laris atau tidak juga sangat ditentukan oleh mutu hasil cetakan.

Menerbitkan buku sendiri sudah pasti butuh modal. Untuk mendapatkan biaya cetak yang murah kalau tidak salah minimal order 2.500 eksemplar. Kalau satu eksemplar modal produksinya adalah Rp 10.000 maka membutuhkan modal minimal Rp 25.000.000. Belum termasuk biaya pemasarannya ke seluruh pelosok tanah air. Memang terlihat sangat ribet dan rumit tetapi jika buku tersebut laris bak kacang goreng maka dalam sebulan saja bisa jadi jutawan atau milyarder. Cara pemasaran ke toko buku juga bisa menggunakan pihak ketiga atau dilakukan sendiri untuk toko buku yang dekat dengan rumah kita. Tinggal datang menghubungi bagian purchasing atau customer relation.

Menerbitkan Buku Lewat Penerbit

Menerbitkan buku lewat penerbit adalah langkah paling mudah dan banyak dilakoni orang  bahkan termasuk penulis-penulis ternama. Kita tinggal menulis atau membuat naskahnya, diketik, diprint out lalu dijilid rapi. Kalau naskahnya sedemikian tebal, penjilidannya bisa dipisah-pisah beberapa bab. Yang penting rapi. Lampirkan sebuah surat pengantar kemudian kirim ke penerbit. Jangan lupa sertakan perangko balasan seandainya naskah kita ditolak bisa dikirimkan kembali oleh penerbit. Jangan dulu sertakan disket atau flash disk sampai naskah kita dinyatakan lolos. Jika lolos, penerbit yang akan meminta kita mengirimkan softcopy naskah tersebut. 

Naskah yang disetujui akan diterbitkan dan dipasarkan langsung oleh penerbit. Penerbit manapun sudah ada jaringan pemasarannya. Kita tidak perlu kuatir. Duduk diam dan berdoa saja agar laris manis. Jika penerbit satu menolak, kita kirimkan lagi ke penerbit berikutnya dengan beberapa perubahan yang barangkali masih diperlukan. Begitu ditolak lagi, kirimkan lagi ke penerbit lainnya. Jika sudah ditolak lebih dari 10 penerbit, rasanya memang tidak menarik naskah tersebut. Kita terpaksa harus menerbitkannya sendiri jika yakin masih laris manis. 

Hampir rata-rata penerbit memberikan royalti 10%. Mungkin cuma penerbit Andipublisher, Yogyakarta yang berani memberikan royalti 15%. Itu pun dengan syarat Anda bukan penulis yang baru pertama kali mengirimkan naskah. Di samping itu naskah sebelumnya menurut pihak Andi penjualannya cukup sukses. Dengan demikian untuk naskah kedua ini Anda bisa mendapatkan royalti 15%. Cuma sayangnya dari segi pengemasan produk masih kalah jauh dengan penerbit Gramedia, Elexmedia, Ufuk, dsb. Tetapi dibandingkan waktu dulu sudah banyak kemajuan. Bagaimanapun kemasan itu sangat mempengaruhi minat orang membeli sebuah buku. Cover buku, pemilihan font judul (tipografi), warna cover belakang, sinopsis, dan kerapatan huruf sangat menentukan kesuksesan sebuah buku di pasar. Tentu saja yang paling utama tetap isinya dan ini berada di otak si penulis itu sendiri.

Karena royalti yang sangat minim - belum dipotong pajak penghasilan - otomatis untuk hidup sebagai penulis di Indonesia adalah sebuah ilusi. Sangat sulit bertahan hidup hanya mengandalkan royalti buku. Maklum konsumsi buku di tanah air masih terlalu rendah. Jadi jangan dijadikan profesi utama sebab tidak bisa menghidupi kita. Namun kalau hanya untuk mencari nama, membagikan ide, ekspresi diri, menyalurkan idealisme atau hobby sangat dianjurkan.

Menjadi kaya dari profesi menulis buku meski memungkinkan tetapi perlu perjuangan super ekstra. Situasi ini berkebalikan dengan negara maju seperti Amerika, Eropa atau Jepang. Di sana penikmat buku sama banyaknya dengan penikmat tembakau, kopi atau alkohol. Makanya tak heran penulis novel di sana bisa menjadi milyarder. Bahkan profesi penulis merupakan profesi yang prestisius dan banyak diimpikan orang. Orang yang bisa menghasilkan sebuah buku bahkan dianggap orang yang pintar dan hebat. Selain itu, industri perfilman di sana sangat berkembang yang pasti membutuhkan ide-ide atau cerita-cerita baru. Dari mana lagi jika bukan dari sebuah novel? 

Profesi penulis atau pengarang di negara-negara maju sangat dibanggakan. Tetapi di sini, profesi penulis kadang masih diremehkan. Banyak penulis malu berkata bahwa mereka adalah penulis. Padahal kalau kita menggunakan Google, semua itu adalah kerjaan penulis. Jika tidak ada penulis tak ada gunanya mesin pencari seperti Google, Yahoo, Baidu, Bing, dsb. Tak ada yang bisa dicari oleh orang-orang tersebut karena yang dicari memang tulisan-tulisan. Jadi mulai sekarang Anda harus bangga dan jangan pernah malu menjadi seorang penulis. Kalau naskah Anda selalu ditolak oleh penerbit, mengapa tidak menulisnya dalam sebuah blog? Bisa terkenal dan panen banyak uang juga kok. Coba lihat naskah kami yang ditolak ini lalu kami terbitkan di blog mafia kartu kredit. Pembacanya membludak setiap saat dan banyak tawaran-tawaran bisnis yang didapatkan.

Mengirimkan Naskah ke Penerbit Gramedia

Mengirim naskah ada etiketnya. Anda tidak boleh mengirimkan naskah kepada semua penerbit pada waktu yang bersamaan. Karena jika pas kebetulan ada 2 penerbit yang setuju menerbitkan naskah tersebut, Anda menciptakan perselisihan di antara mereka. Dengan kata lain Anda menganggap remeh penerbit satunya sebab disetujui tetapi malah membatalkannya dan diberikan ke penerbit lain. Lama-lama citra Anda sebagai penulis akan dianggap tidak profesional dan akhirnya akan ditolak di penerbit tersebut. Jadi kirimnya satu per satu.

Tunggu keputusan penerbit satu per satu. Jika sudah ada kabar ditolak, baru kita kirimkan ke penerbit berikutnya. Naskah yang ditolak tidak selalu berarti isinya jelek. Ada banyak sekali alasan penolakan naskah yang tidak mungkin dibahas di sini. Nanti ada waktu kami akan membahasnya. Tetapi yang paling utama sebuah naskah diterbitkan karena isinya bagus dan daya jualnya besar. Isi bagus tetapi daya jualnya sempit juga pasti ditolak. Karena penerbit adalah perusahaan yang mencari untung. Kalau tidak laku dijual, siapa yang mau?

Sebagai gambaran naskah yang baik dan disukai penerbit adalah:
  1. Penulis Terkenal - Naskah Bagus.
  2. Penulis Tidak Terkenal - Naskah Bagus.
  3. Penulis Terkenal - Naskah Jelek.
  4. Penulis Tidak Terkenal - Nasakah Jelek.
Prioritas diterbitkan adalah 1 dan 2. Kalau yang ketiga masih memungkinkan karena nama besar si penulis. Tetapi yang keempat sudah pasti akan dimasukkan ke tong sampah. Bagi yang tetap ingin mengirim naskah ke penerbit Gramedia, berikut ini alamatnya:

PT Gramedia Pustaka Utama
Gedung Kompas Gramedia, Blok I, Lantai 4 & 5.
Jl. Palmerah Barat 29-37, Jakarta 10270.
Telp: 021 - 53650110/53650111

Bagi yang mengirimkan naskah nonfiksi dan ingin berbicara dengan tim editor penerbit Gramedia karena satu dua hal, maka bisa menghubungi pesawat 3512, sedangkan untuk fiksi bisa menghubungi pesawat 3511. Sedangkan alamat mereka yang bisa Anda hubungi adalah nonfiksi@gramediapublishers.com dan fiksi@gramediapublishers.com. Aktif tidaknya email-email tersebut tinggal Anda buktikan sendiri.
Inilah salah satu contoh surat penolakan naskah yang pernah kami terima.
Rentang waktu penilaian naskah oleh Gramedia kurang lebih 3 bulan dan mungkin juga sama dengan penerbit lain. Waktu selama itu dibutuhkan untuk menilai naskah dari berbagai sudut pandang, antrian dan salah satunya adalah faktor bisnis. Jadi kalau kita mengirimkan ke 10 penerbit secara bergiliran butuh waktu 2,5 tahun. Selama waktu tersebut materi sebuah buku sudah bisa basi, dsb. Itu salah satu dilema penulis yang harus Anda pikirkan.

Lamanya penilaian naskah banyak faktornya. Antara lain: antrian naskah, kesibukan editor, bagian pemasaran atau penilaian naskah itu sendiri yang memang rumit untuk diputuskan. Istilahnya dilepas salah diterbitkan juga takut rugi. Jadi harus dinilai dengan sebaik-baiknya. Naskah yang jelek sudah pasti akan cepat dikembalikan karena tidak perlu dinilai, cukup bolak-balik tim editor sudah tahu naskah tersebut bagus atau tidak. Sebaliknya jika lama pemberitahuannya, kita patut sedikit berbangga sebab ada kemungkinan lolos.

Referensi: terus wujudkan mimpi Anda menjadi penulis. Jiwa Anda sama seperti jiwa kami. Meski satu penerbit menolak kita, tak perlu berputus asa. Kita bisa mengirimkannya ke penerbit lainnya atau menerbitkannya sendiri. Waktu penilaian naskah 3 bulan memang terlihat tidak adil dan terlalu lama, tetapi itulah bagian dapur penerbit. Bagaimana menurut Anda?

Sponsored links Mengirim Naskah: 

Menurut saya:

56 komentar :

  1. makasih banyak infonya sangat bermanfaat. selain penerbit andi jogja, ada lg nggak yg ksh royalti bagus buat penulis. lalu kalau kita mau menerbitkan sendiri buku kita bgmana caranya? diah bogor

    BalasHapus
  2. Diah di Bogor: pengalaman penerbit yang memberikan royalti lebih dari Andi belum pernah kami alami. Tetapi rata2 cuma 10% ya harus kita terima dengan legowo. Yang penting bagaimana caranya membuat buku karya kita jadi best seller saja.

    Mengenai menerbitkan buku sendiri, saat ini belum pernah kami coba. Barangkali dari pembaca yang pernah melakukannya? Bisa sharing di sini. Coba Diah cari lagi dari Internet, semoga ketemu ya.

    BalasHapus
  3. Pengalaman yang menarik.
    Kira -kira penerbit lain yang memberi peluang lebih besar umtuk menerima naskah para penulis baru mana saja ya... kalau tahu tolong di share infonya..

    BalasHapus
  4. Thanks, Mas! Bermanfaat banget infonya!
    Aku sendiri belum pernah ngirimin naskah ke penerbit.. Belum berani.. Baru berani di blog aja.. Bingung deh apa nanti ngirim atau self-publishing aja ya..?

    Kalo sempat, mampir-mampir ke sini ya! ;)
    http://nayacorath.wordpress.com

    BalasHapus
  5. jika Anda tau, kira2 berapa eks biasanya pada cetakan pertama yg dicetak oleh penerbit Andi Yogyakarta?.. dan jika sebelumnya penulis adalah pertama mengajukan ke penerbit Andi (namun bukan pemula, karena sudah menerbitkan beberapa buku pada penerbit lain, misalnya Elex Media Komputindo, dan penerbit Yogyakarta lainny), apakah penerbit Andi berani memberikan royalti 15%?..

    thx..

    BalasHapus
  6. Sebagai penulis kita wajib menjajaki berbagai penerbit asal sesuai dengan misi visi penerbit tersebut. Jika mereka cenderung menerbitkan buku komputer tentu akan welcome dengan buku-buku seputar komputer, internet.

    Pak Agus, soal jumlah eksemplar Andi berani kok minimal 3.000 eks asal memang penulis sudah cukup punya nama dan tentunya topik buku itu sendiri apa sudah ada saingan di pasaran atau belum. Mengenai royalti, 15% itu sepertinya untuk penulis yang sudah pernah terbit bukunya. Jadi pihak Andi sudah yakin akan jalinan kerjasama seperti ini dan tentunya dari tingkat kelarisan buku-buku yang pertama terbit. Untuk lebih jelasnya bisa tanyakan langsung ke penerbit Andi.

    Gitu aja dulu ya rekan-rekan semua dan Pak Agus. Semoga sukses dengan buku-buku barunya.

    BalasHapus
  7. Sekarang banyak penerbitan alternatif seperti Leutikaprio.com, nulisbuku.com, pro.indie-publishing.com dll yang menerbitkan buku secara SELF PUBLISHING alisa menerbitkan buk sendiri (INDIE). Ada yang gratisan dan ada juga yang bayar penerbit untuk fasilitas desain cover, layout dan editing naskah serta pengurusan ISBN. Kelemahannya pangsa pasarnya yang sedikit karen hanya dijual online

    BalasHapus
  8. Artikel yang menarik :)

    Saya ingin lebih jauh mengerti mengenai penerbit self publishing. Saya seorang mahasiswa yang sudah memiliki karya sendiri berupa novel dan baru-baru ini mencoba mengirimkan salah satu naskah saya ke salah satu penerbit self-publishing.

    Kira-kira, masa depan seorang penulis baru seperti saya yang mengambil langkah awal dengan menerbitkan naskahnya lewat self-publishing bagaimana ya, pak? Saya ingin tahu lebih banyak mengenai self-publishing itu sendiri dan apakah hasilnya akan memuaskan (dalam hal pemasaran produk dan lain2)?

    Jawaban Anda sangat saya nantikan.
    lisaintan23@gmail.com

    BalasHapus
  9. artikel yang bagus,,, saya ingin jadi penerbit.
    tapi.. nampaknya ini susah sekali.
    saya hanya selfpublish di wordpress dan blogger..

    jika ada yang suka membaca, silakan ke http://joheuniyagi.wordpress.com atau http://raebyung.blogspot.com

    terima kasih ^^

    BalasHapus
  10. Mau tanya tentang penerbit Andi. Berdasarkan pengalaman agan2, apa pnerbit Andi memberikan royalty awal (sebelum buku terjual) atau setelah 6 bulan pnjualan bagi penulis yg bru menrbitkan buku pertamanya? Thanx bfore.. :)

    BalasHapus
  11. Aku punya cita2 jadi penulis kang hehe :) smentara dikumpulin di blog hehehe

    BalasHapus
  12. Sesulit itukah untuk tembus ke GRAMEDIA? saya udah browsing sana-sini semuanya mengatakan demikian. Saya baru saja menyelesaikan naskah saya yang pertama dan baru akan mencoba untuk mengirimnya ke GRAMEDIA. Apa kemungkinan besar di tolak? Jujur, saya jadi down. Tapi saya memilih untuk tetap mengirim naskah saya ke sana. Modal Nekat!!!

    BalasHapus
    Balasan
    1. Semoga naskahnya lolos ya. Jangan putus asa!

      Hapus
  13. Pengalaman saya sedikit berbeda. Buku saya sudah pernah diterbitkan oleh salah satu anak perusahaan Gramedia. Jadi bukan penerbit Gramedia nya sendiri, tapi masih masuk Gramedia group.
    Proses pengajuan naskah dan penerimaan berjalan cukup baik. Pencetakan dan distribusi buku juga berjalan lancar.
    Sesuai perjanjian, setelah buku terbit, saya langsung menerima 20% dari total royalti (yaitu 20% x persentase royalti x jumlah eksemplar cetak x harga jual)
    Sesuai perjanjiannya, saya akan menerima laporan penjualan setiap 6 bulan dan jika penjualan eksemplar sudah melampaui 20% dari total yang dicetak, saya akan menerima royalti berikutnya.
    Akan tetapi, masuk ke 6 bulan, tidak ada berita apa-apa yang saya terima.
    Sampai saya sendiri lupa karena berbagai kesibukan lainnya.
    Kemudian, 1.5 tahun setelah terbitan awal (awal 2010), saya terima sebuah laporan yang isinya ringkasan penjualan selama 1.5 tahun terakhir, saya juga akhirnya menerima pembayaran royalty yang belum dibayar.
    Berhubung menurut laporan terakhir, sisa buku saya yang belum terjual sangat sedikit, maka saya menanyakan soal cetak ulang. Heran nya, pertanyaan saya tentang cetak ulang ini tidak pernah mendapatkan jawaban yang jelas "iya" atau "tidak". Saya cuma diberitahu "soal cetak ulang bukan ke saya, harusnya ke X" dan X yang direfer sudah saya kontak berkali2 tanpa respon sama sekali.

    Berdasarkan kontrak penerbitan yang saya tandatangani, apabila buku habis dan penerbit atau penulis tidak menghendaki cetak ulang, maka dalam 1 tahun hak atas naskah kembali ke penulis. Ini sangat penting, agar saya bisa mencari penerbit lain untuk menerbitkan naskah saya.
    Akan tetapi, hingga 2012 ini, status cetak ulang naskah saya dibiarkan tanpa jawaban, membuat saya juga sulit bergerak mencari penerbit baru, karena saya berusaha mentaati kontrak awal saya.

    Apabila ada yang punya pengalaman serupa, apa boleh di share, siapa yang bisa saya kontak untuk kasus seperti ini?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Bro,
      Pengalaman yang sama tidak pernah saya alami. Menunggu komentar rekan lain juga tidak ada, jadi saya balas saja ya.

      Kalau sudah terlalu lama apalagi buku sudah dijual dengan harga diskon, sudah pasti kita bisa tawarkan ke penerbit lain. Contohnya buku Tip & Trik Memiliki Kartu Kredit. Tentu saja harus dipikirkan lamanya waktu. Kalau buku saya sih sudah 10 tahun lebih. Jadi sudah pasti jatuh ke tangan kita sendiri hak terbitnya karena mungkin juga naskahnya di penerbit sudah hilang ke mana.

      Jadi kalau masih 1 - 2 tahu sebaiknya jangan ditawarkan dulu. Semoga membantu.

      Keep writing.

      Hapus
  14. ikutan nimbrung ya... saya baru saja selesai menulis sebuah naskah buku, dan berencana mengirim ke penerbit gramedia ada pertanyaan yang mungkin agan2 semua bisa bantu jawabanya :
    "Naskah yang akan kita kirim apakah harus sudah berbentuk buku jadi lengkap dengan hardcover, cover depan, cover belakang, design layout serta accecories lainya atau hanya naskah yang di print out saja ? mohon dibantu informasinya thanks jawaban tolong di kirim ke email : eddy.architect@gmail.com

    BalasHapus
    Balasan
    1. Print out tetapi dalam bentuk lengkap dan dijilid rapi. Jadi ada cover, judul, daftar isi dan materi. Sinopsis juga perlu. Pokoknya seolah-olah seperti buku. Hanya saja naskah kasar print out.

      Hapus
  15. Permisi, mau ikutan sedikit. Andai ada teman kita di luar negeri yang ingin menulis sebuah buku, bagaimana ya prosedurnya, apa harus tetap mengirimkan printoutnya ke penerbit (Gramedia), atau boleh melalui email?
    Terimakasih atas penjelasannya.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Baik luar negeri atau dalam negeri prosedurnya tetap sama harus dalam bentuk print out. Ini untuk memudahkan tim editor menilai naskah.

      Tetapi kalau sudah dikenal baik dan penjualan bagus atau bukunya ada kelanjutannya mungkin bisa lewat email. Tergantung editor yang menangani naskah juga. Lebih jelas silakan kontak penerbit secara langsung Bro.

      Hapus
  16. saya sudah punya novel sendiri yg diterbitkan oleh penerbit andi jogja. apa saya sudah bisa disebut punya nama dalam jagat kepenulisan? apakah kemungkinan mudah tembus bila ingin mengajukan naskah ke penerbit lainnya?

    BalasHapus
  17. Selamat ya Cora Bellato! Soal punya nama masih harus tergantung pada laris tidaknya novel Anda tersebut. Kalau laris seperti Laskar Pelangi sudah pasti sangat terkenal. Namun demikian tidak ada jaminan juga diterima penerbit lain sebab visi misi tiap-tiap penerbit berbeda. Segmen novelnya juga berbeda-beda. Tetapi tak ada salahnya mencoba!

    Keep writing ya!

    BalasHapus
  18. Terimakasih pak artikelnya bermanfaat sekali.
    Mau tanya, apakah naskah buku tidak bisa dikirim paralel ke beberapa penerbit sekaligus? Kenapa harus menunggu pembatalan dari penerbit baru diajukan ke penerbit lain?
    Terimakasih.

    BalasHapus
  19. Pak Muadzin,
    Tidak bisa dan tidak boleh. Tindakan yang sangat dilarang keras. Terlihat sebagai penulis tidak profesional. Kalau semuanya mau menerbitin bagaimana? Penerbit dilecehkan bukan?
    Jadi tidak boleh mengirim ke semuanya namun harus satu per satu. Keep writing.

    BalasHapus
  20. hellooo...
    mau tanya dunk, kalo kita ngirim naskah novel ke penerbit melebihi batas halaman yang ditentukan apakah tidak ada toleransi?
    Misal aturan penerbit maks halaman 150, tapi naskah yang saya buat hingga 200 halaman.

    Apakah naskahku ini akan ditolak?

    BalasHapus
  21. Terbitin buku di Mahoni.com saja, royaltinya jauh lebih besar plus pemasarannya jauh lebih luas. Mampir ke www.mahoni.com atau hubungi info@mahoni.com

    Terima kasih

    BalasHapus
  22. makasih banyak atas infonya. saya sangat puas setelah membaca. dengan begini saya telah tau bagaimana cara mengirim hasil karya saya ke penerbit. terima kasih

    BalasHapus
  23. sepupu saya juga bilang, lebih baik Self Publishing aja, hasilnya kita nikmati sendiri. daripada pake penerbit, udah editornya lama, royalti cuma 10% lagi. ruginya di kita sendiri, apalagi kalau buku kita bagus. tapi masalahnya sekarang, gak gampang cari uang 30jt buat cetak buku sama ngejual lagi -_- apa bisa yah minjem di bank, pake alasan apa???

    BalasHapus
  24. Misi agan2, saya mau sharing pengalaman saya ya. Hehe
    saya ini penulis pemula, dan kebetulan tahun lalu saya mengirimkan naskah pertama saya ke Gramedia. Kemudian bulan februari kemarin, saya mendapat surat pemberitahuan dari GPU yang isinya naskah saya akan diterbitkan dan saat ini masih dalam proses antrian untuk diedit. Jadi saya mau ralat artikel diatas, untuk penulis pemula jangan ragu untuk kirim naskah ke penerbit besar. Kalau naskah kita memenuhi syarat mereka, pasti diterbitkan. Hehe

    Nah untuk prosedur penerbitan sendiri, memang agak lama. Sampai sekarang aja saya masih menunggu. Tapi itulah resiko kalau mau diterbitkan oleh penerbit sekaliber gramedia karena bukan cuma naskah kita saja yang menumpuk di sana. Kecuali mungkin kalau kita sudah punya beberapa buku dan naskah kita dinanti banyak pembaca, itu baru terbitnya bakalan cepet.

    Terima kasih :D

    BalasHapus
  25. Informasi yang menarik, bisa menjadi referensi bagi yang ingin mengirimkan naskah ke penerbit yang bersangkutan.

    BalasHapus
  26. Luar biasa sekali tulisannya..
    saya mendapatkan pengalamn baru.

    beberapa mnggu yg lalu sya "Persembahan Tania" diterbitkan oleh Leuitkaprio. Pihak penerbit hanya mempromosikan secra online. Saya tidak ingin bergantung pada penerbit, karena saya ingin novel ini bisa dikonsumsi khalayak luas.
    saya memesan beberapa eksemplar, lalu saya mendatangi beberap toko buku selain "Gramedia" untuk menjalin kerjasama. Alhamdulillah ada beberapa toko buku yang bersedia menjual Novel saya.

    Tidak cukup sampai disitu, bentuk promosi lainnya ttp sya lakukan. kali ini dibantu oleh shbt2 sya. Dimulai dri pamflet, stiker, poster dll. saat ini msh masuk tahap produksi. memang btuh biaya u/ proses produksi ini, tapi ini pengorbanan untuk sebuah prestasi. karena bila kita sudah memiliki prestasi di dunia penulisan, InsyaAllah materi akan mengikuti.

    Hanya sedikit pengalaman dan rencana yg bisa saya bagi. semoga pembaca terinovasi. :)

    Saya masih ingi sharing dengan anda semua. silahkan follow twitter @Tantia789, add FB Tantiana Budiarti, dan blog Tantiadocpholis.blogspot.com (sedang dalam perbaikan)

    BalasHapus
  27. terimakasih infonya mas....

    http://hanivatarjumanmelati/blogspot.com

    BalasHapus
  28. 3 bln yg lalu sy mengirimkan naskah ke PT Gramedia tp sampai skrg kok blm ada kbr ya? kmn sy mencari infonya ya? makasih

    BalasHapus
  29. Terimakasih atas infonya ! Ini bener benar bermanfaat.. Saya terinspirasi menjadi seorang penulis , namun selalu saja ada hambatan yang menghambat! Tapi saya yakin pasti bisa

    BalasHapus
  30. wah, thanks .... pertanyaan di kepala saya terjawab sudah ... 1 naskah hanya boleh dikirim ke 1 penerbit dahulu .... tapi ruginya kita harus menunggu lama untuk mendapat jawabannya :)

    nah kalau punya 2 naskah, masing2 dikirim ke penerbit berbeda, seandainya kedua naskah diterima oleh kedua penerbit yang berbeda, menyalahi ngga ya ?

    BalasHapus
  31. terima kasih banyak atas infonya, saya Alifiah Nur Zahidah, saya pelajar smp klas 7 hobi saya menulis cerita pendek, sudah banyak yang saya tulis tapi belum tahu kemana harus saya publikasikan, sementara ini hanya saya masukkan ke blok saya yaitu di fifantic.blogspot.com, mohon saran agar tulisa saya tersebut bisa dipublikasikan

    BalasHapus
  32. makasih buat penulis dan temen2 diatas yang sharing. memotivasi.
    baiklah, mulai sekarang akan ku make up lagi naskahku yang sudah lama terbengkalai.
    semangat semua!

    BalasHapus
  33. wah, cerita sharenya seru sekali. untuk penerbitkan/menjual buku barun hanya menawarkan saja menunggu waktu 3bln, bgm ya cara kerja management gramed, koq tidak sistematis
    saya penulis baru yang sedang amat bingung, apakah tulisan saya lempar ke penerbit atau jd self publishing saja. karena membaca artikel bapak saya jadi ngeri - ngeri sedap untuk mengirim naskah ke gramedia. tp untuk jadi self publishing itu sepertinya rumit sekali ya, mohon bantuan info nya ya. tq so much

    BalasHapus
  34. gan , -_- mang nerbitin novel itu hrs bayar apa ya??
    mohon balasannya

    BalasHapus
  35. halo mas/mbak, mau tanya-tanya donk..
    jadi bulan januari kemarin, tanggal 4 saya mengirimkan naskah novel ke Gramedia, dan diterima oleh sekretaris bagian fiksi, ibu frida.
    dan kemarin, tanggal 3 april (sudah 3 bulan)saya telepon ke gramedia menanyakan kabar naskah saya, ternyata masih di redaksi, masih di editor. kata ibu frida, coba telepon lagi ke gramedia di pertengahan april.
    kira-kira kemungkinan novel saya diterbitkan seberapa besar ya? karena sudah lebih dari 3 bulan.

    Terima kasih mas/mbak

    BalasHapus
  36. artikelnya bagus... saya punya pengalaman yang sama. buku pertama saya diterbitkan Andi, oke kerjanya. terus dulu pas di gramedia, surat penolakannya saya nunggu setahun lho! setahun! hihihi

    BalasHapus
  37. buat muadzin,

    kalau saran dari seorang penulis amerika(dia nulis fiksi and non fiksi and kasih pelatihan-pelatihan dari fiksi sampai disertasi doktoral) begini - mengenai "dilarang keras kirim ke beberapa penerbit secara pararel" : itu kan peraturan penerbit! bukan peraturan penulis! dia sarankan langsung kirim penawaran naskah ke misalnya 26 penerbit. dari 26 ini saja (sebagai pemula aku pernah kirim penawaran ke 30 penerbit hehehe...), 10 mungkin tidak akan direspon alias didiamkan aja, 5 mungkin alamat email/alamat surat sudah ganti (kan email gratis mudah ganti ganti) dari yang terdaftar (di IKAPI misalnya), 5 email lagi bounched back karena full/atau alamat tak dikenal lagi, 1 direspon tapi penulis mesti beli bukunya 1000-1500 eksemplar), 2 direspon tapi tak lolos seleksi, and 2 atau 3 penerbit ada yang mau menerima naskah kita (tu total dah 26 atau lebih yak? pokoknya kyk gt d kira2...). nah bila ada 2 penerbit yang tertarik, tinggal penulis yang berhak pilih penerbitnya n bilang ke penerbit lain naskahnya mau ditarik misalnya karena mw direvisi, tapi ini sebelum teken kontrak agreement yak..

    BalasHapus
  38. eh ternyata byk juga ya menunggu dg harap2 cemas kabar dr penerbit ttg naskahnya. dlm waktu sampai 1 thn pula..

    ada kok penerbit terkenal yang kasih info maksimal 1 bulan. bahkan ada yng dalam 2 minggu ngabarin tertarik mo nerbitin. ada juga yang minta waktu 3 bulan.

    so, saran dari penulis amrik tu aku kira encourage para penulis d.. and juga melegakan.. so, mengapa tak dicoba?

    o ya, jangan bohong, komentar aku bag. akhir di atas maksudnya, naskah ditarik mau direvisi and ada penerbit lain gt d..

    selamat mencoba!

    BalasHapus
  39. Kalo menurutku ga apa apa kita mengirimkan naskah ke lebih dari satu penerbit.selama itu dalam bentuk naskah,kecuali sudsh teken kontrak baru jadi masalah.kalo pada akhirnya ada 2 atau lebih penerbit yang mau terima itu keputusan kita mau diterbitin sama siapa. Selama belum teken kontrak sih ngga masalah

    BalasHapus
  40. gmana caranya agar karya kita bisa dimuat dikoran atau di majalah?

    BalasHapus
  41. Saya sudah dua kali ditolak gramedia. Bagi saya gramedia adalah penerbit yang sangat hebat selain namanya yang hebat. Mereka menghargai setiap penulis, tidak didiamkan begitu saja tanpa kabar jika naskah tidak lolos. Gramedia dengan senang hati mengembalikan naskah kepada penulis jika tdak bisa diterbitkan. Penghargaan itu membuat saya dihargai sebagai penulis. Paling tidak ada kabar bahwa naskah saya masih perlu perbaikan.
    Saya berencana mengirimkan kembali naskah ke gramedia, kali ini bentuk nonfiksi, berharap dimuat walau kecil kemungkinannya mengingat nama saya sudah tak mereka ingat lagi, krna rentang waktu saya mengirim naskah pada tahun 2009, 2013 baru kembali memulai kirim kesana.
    Satu hal yang membuat saya termotivasi ke gramedia, karena ini penerbit yang "membaca" karya penulis lalu dikembalikan jika tak layak. Beda dengan penerbit lain yang sampai bertahun-tahun tak jelas naskah kita ditolak aplagi diterima.
    mari sama-sama menulis, jika tak diterbitkan, kita sudah bisa menuangkan isi kepala ada tulisan yang bisa kita baca sendiri kapan-kapan. Menulis itu agar menghilangkan lupa bukan?

    BalasHapus
  42. Terimakasih,
    Pas banget aku pingin jadi penulis muda terkenal. tapi, sekarang aja baru belajar nulis. mohon doanya ya ceman-ceman.. :)
    Oh ya, mampir ke blogku ya...
    Purnama-chan.blogspot.com

    BalasHapus
  43. Salam kenal teman2 Saya juga berniat menulis buku tentang Ilmu Bahasa yang sesuai dengan Profesi saya di Universitas sebagai mahasiswa jurusan Bahasa, apakah Gramedia bisa menerbitkan buku sekaliber pemula seperti saya, yang blum punya nama?

    http://wiryanotes.blogspot.com/

    BalasHapus
  44. Makasih tipsnya...
    http://nblo.gs/P8oLV

    BalasHapus
  45. yaaaaaaaaa hanya tukar pengalaman , aku pernah menghubungi penerbit Erlangga, kalau aku punya naskah:
    Cepat Pintar Membaca Dengan Metode SAS
    Ada jawaban agar naskah dikirim, maka aku buat satu Ex
    sebagai contoh, dengan biaya cetak Rp 180.000,-
    EEEEEEEEE tak taunya , aku tunggu selama 3 bulan
    Waktu itu aku kirimkan lewat POS..............................
    jawaban lewat email pun tak ada, surat tak ada..........
    Dan Naskah nya sampai hari ini tak tau rimbanya, dan bagaimana nasibnya .
    Dan akhirnya buku tersebut aku tyerbitkan sendiri, dan pertengahan bulan ini 15 Nopember 2013 sudah beredar
    Anda bisa pesan lewat 082141300336

    BalasHapus
  46. Dan kalau < Anda ingin menerbitkan buku sendiri
    saya siap membantu, dari naskah yang masih dalam konsep
    dari tulisan pensil............. namum sudah lengkap. saya siap
    membantu Anda untuk mewujutkan impian anda sebagai penulis, siap membantu untuh desain cover, ketik naskah.
    layout asal udah ada kesepakatan dari anda dan ber ISBN
    ISBN tak poerlu ada tambahan biaya , sepeserpun

    BalasHapus
  47. Bai ruindra , itu pengalaman yang sangat menyenangkan
    dan mengakui secara gentleman yaaa mungkin naskah belum layak / gimana , numpang disini, cetak sendiri aja
    murah kok !!!!!

    BalasHapus
  48. Terima kasih infonya. Saya Felix, saya sudah punya 3 cerita. 2 cerpen, dan 1 novel. Saya ingin menerbitkan karya saya yang berupa novel. Seandainya, saya mengirim pertama pada penerbit, dan satu di blog, apakah tidak apa-apa?
    Thankyou

    BalasHapus
  49. Artikelnya menarik (Y)
    Saya juga tertarik menerbitkan karya fiksi ke penerbit gramedia. Apa selain print out harus disertai dengan cover juga?
    Terima kasih

    BalasHapus
  50. Ada contoh surat pengantar buat ngirim naskah ke gramedia?

    BalasHapus
  51. percetakan khusus untuk buku di jakarta dimana yah? Ketemunya yang nyampur sama jasa2 lain, seperti majalah dll, harga jadi tidak masuk hitungan :|

    BalasHapus
  52. self-publishing harus berbayar. apa berarti, penerbit2 ternama tidak harus berbayar. karena jika berbayar itu cukup sulit karena biaya yang cukup besar.

    BalasHapus

Berkomentarlah sesuai pengalaman masing-masing. Komentar spam, di luar topik, destruktif atau tidak bertanggungjawab pasti akan dihapus.