 |
| Pantai Pasir Perawan |
Review konsumen kali ini menampilkan perjalanan berwisata ke Kepulauan Seribu. Seperti Anda ketahui bahwa Kepulauan Seribu merupakan salah satu tempat alternatif berwisata bagi warga Jakarta dan sekitarnya selain ke Anyer, Puncak, Bandung atau mungkin ke luar kota. Kali ini kami berwisata sambil memancing. Jadi kalau Anda ingin menyebut
review kali ini sebagai "
review tempat wisata" atau "
review spot memancing", keduanya mungkin cocok. Buat Anda yang hobby memancing dan juga senang bertamasya, mari kita mulai.
Memancing Ikan Kerapu di Kepulauan Seribu
Bagi yang suka memancing, tentu ada banyak pilihan tempat memancing dan tentunya berbagai jenis ikan yang bisa dipancing. Dalam acara televisi Mancing Mania yang ditayangkan Trans7 kita bisa melihat instruktur mancing yang sudah sedemikian piawai dan berpengalaman membagikan tips trik memancing seperti Mas Bayu Noor, Bapak Dudit Widodo, dsb. Ada banyak spot pancing yang diinformasikan kepada kita dari seluruh penjuru nusantara dengan berbagai teknik memancing seperti casting, trolling, popping, jigging, dsb.
Beberapa hari yang lalu kami mencoba mengadu peruntungan dan hobby memancing di Kepulauan Seribu. Karena hanya sekadar hobby tentu saja kami tidak membutuhkan alat-alat pancing yang sedemikian lengkap yang harganya bisa puluhan juta. Siapa bilang hanya pehobby golf yang peralatannya puluhan juta? Kami tidak memancing ikan-ikan besar atau menggunakan teknik seperti yang ditayangkan di acara Mancing Mania. Ya hanya sekadar hobby saja di sela-sela kepenatan kerja di Ibukota.
 |
| Berangkat dari Tanjung Kait. Sewa kapal seperti ini cukup Rp 400.000 satu trip memancing dari jam 6 pagi - 6 sore. Sediakan juga makanan minuman buat awak kapal. Total kami berenam. |
 |
| Seorang rekan strike ikan kerisi. Sebelum mencapai Pulau Pari kami juga memancing di tengah laut. Ada beberapa jenis ikan yang berhasil diangkat salah satunya adalah ikan kerisi ini. |
Memilih kepulauan seribu sebagai spot memancing hanya karena alasan memang dekat dengan tempat tinggal kami yakni di Jakarta. Kami berangkat dari rumah jam 4 pagi menuju Tanjung Kait di propinsi Banten wilayah Tangerang. Sampai di sana kurang lebih jam 6 pagi dan matahari masih malu menunjukkan batang hidungnya. Perjalanan butuh waktu satu jam lebih. Maklum karena kami berkendara tidak begitu cepat. Lagian menggunakan mobil sedan yang harus dikemudikan pelan-pelan karena jalanan yang cukup sempit dan jelek. Kami hanya membawa peralatan pancing, sedikit makanan, box es untuk menyimpan ikan hasil pancingan. Sedangkan urusan minuman kami tinggal beli di sana.
Sewa kapal, kami menyewa kapal seharga Rp 400.000 untuk sekali trip perjalanan memancing dari jam 6 pagi hingga jam 6 sore. Kurang lebih 12 jam. Cukuplah untuk sekadar melepas hobby. Sedangkan untuk umpan yakni udang mati dan udang hidup kami pesan di sana. Tinggal pesan kepada penyedia kapal dan akan disediakan begitu kita datang. Jadi tinggal terima beres dan siap menarik ikan. Hanya saja pilihlah penyedia sewa kapal yang ramah dan juga hobby memancing. Dengan demikian Anda baru mendapatkan pelayanan yang baik dan menyenangkan. Sebab kadang ada juga yang malas untuk melempar jangkar pindah-pindah spot. Padahal jika penyewa tidak puas memancing sama artinya mematikan bisnis sendiri. Kalau pemancing puas, maka tiap minggu pasti akan datang dan sewa kapal lagi. Kurang lebih begitulah sedikit ilmu
marketing buat Anda yang berbisnis sewa menyewa kapal buat mancing.
Setelah memancing di beberapa tempat, akhirnya kami memutuskan untuk memancing ikan karang saja. Kami memancing ikan kerapu di sekitar karang yang ada di Pulau Pari. Di lokasi yang sama, Anda juga bisa menjumpai beberapa orang yang sedang
diving mengamati keindahan karang di bawah laut perairan Pulau Pari. Di sini kami menemukan beberapa jenis ikan kerapu dari ukuran kecil sampai sedang dengan berat kurang lebih 4 ons. Sangat cocok untuk dijadikan santapan apalagi di tim seperti menu
Depot Amin Kedungsari. Anda bisa melihat beberapa aksi dan hasil pancingan kami di foto bawah ini. Kami juga menemukan beberapa jenis ikan hias yang juga ikut memangsa umpan. Ikan hias tidak perlu diambil tetapi dilempar kembali ke habitatnya.
 |
| Inilah salah satu ikan hias di karang yang juga akan memakan umpan Anda. Kalau dapat ikan hias begini juga tidak ada gunanya. Cantik sekali ikan hias ini. Hanya saja saran kami sebaiknya dilempar kembali untuk menjaga habitat ikan hias. Toh tidak bisa dimakan. Terkecuali Anda memang ingin membawa pulang untuk dipelihara. Namun bawa dulu semacam oksigen baterai. Jika tidak akan mati di jalan. |
 |
| Ikan hias cantik lainnya yang juga bisa Anda temukan dan memakan umpan Anda. Kalau terus menerus dapat ikan hias saja tanpa ada ikan kerapu dengan pertimbangan biaya timah yang mahal, bisa kapok mancing ikan di karang. |
 |
| Ikan kerapu macan ukuran 4 ons yang berhasil diangkat. Rakus sekali ikan kerapu dan asyik sekali memancingnya. Harga ikan kerapu 4 ons sudah dimasak di tim seperti di restoran-restoran seukuran ini bisa Rp 110.000 per ekor. Mahal kan? |
 |
| Ikan kerapu merah juga berhasil diangkat. Ada banyak sekali jenis ikan kerapu dan cantik-cantik juga. Ada merah, ada polos, ada loreng, ada bintik-bintik, ada hitam, dsb. Tuhan memang luar biasa! |
 |
| Aneka jenis ikan yang juga berhasil kami pancing. Rata-rata semuanya ikan kerapu, bukan? Pokoknya memancing kerapu di seputar karang Pulau Pari sungguh berkesan. |
Satu hal yang harus Anda ingat bahwa jika memancing di karang seperti ikan kerapu, siap-siap saja membawa timah mancing yang lebih banyak. Sudah pasti risikonya ada mata kail tersangkut di karang. Lempar 10 kali pasti nyangkut minimal 2 kali. Kalau satu butir timah seharga Rp 8.000, bisa Anda bayangkan jika nyangkut 20 kali. Kalikan saja biaya timah yang bisa sampai Rp 200.000 - Rp 400.000 sekali mancing. Jadi memancing di karang untuk ikan kerapu dan sejenisnya butuh biaya besar. Satu kilo timah pancing kami beli seharga Rp 30.000 - Rp 40.000 dan mendapatkan kurang lebih 5 - 7 biji. Mancing ikan kerapu berempat berikut awak kapal menjadi 6 orang bisa menghabiskan 40 butir timah. Kalikan saja biayanya. Mahal sekali bukan?
Tetapi ikan kerapu di karang Pulau Pari memang sungguh mantap! Begitu rakus dan begitu dilempar pasti ada yang memangsa umpan. Pokoknya seru sekali. Pengalaman memancing kerapu yang tak pernah dibayangkan sebelumnya. Paling bagus jika Anda bisa memandu awak kapal untuk mengitari sepanjang karang yang cukup luas. Pasti akan mendapatkan sensasi memancing yang puas. Tetapi ingat: timah dan timah...
Setelah urusan memancing selesai, kami menuju ke Pulau Pari. Karena juga ingin mengunjungi
Pantai Pasir Perawan yang sempat ditayangkan dalam acara TV. Apa sih Pantai Pasir Perawan itu? Apakah benar ada gadis perawan di Pulau Seribu? Cantik tidak gadis perawan Pulau Seribu? Apakah ada hubungan antara Pantai Pasir Perawan dengan gadis perawan? Mungkin begitulah pertanyaan Anda barangkali dan kami juga menanyakan hal yang sama di dalam hati.
 |
| Dermaga Pulau Pari. Di dermaga inilah kami merapat untuk berkunjung ke Pantai Pasir Perawan. |
 |
| Jalan menuju Pantai Pasir Perawan setelah melewati sekolah. Dari sini sudah sangat dekat kurang lebih 10 menit sudah sampai. |
 |
| Suasana jalanan seperti gang-gang di kota Jakarta. Tampak rumah-rumah penduduk yang ramah di samping kanan kiri jalan. Anda bahkan bisa diledek oleh beberapa gadis dan ibu-ibu, "Mas, semoga dapat gadis perawan di pantai ya?" |
Perahu merapat di sisi kanan dari sebuah dermaga kecil. Tampak beberapa wisatawan yang datang berombongan dari Muara Angke. Katanya memang lebih enak berangkat dari Muara Angke karena dekat dengan Jakarta. Biaya sekali jalan kurang lebih Rp 25.000. Tapi maklum karena kami tujuannya memancing jadi dari Tanjung Kait. Sewa kapal juga lebih murah daripada Muara Angke atau Tanjung Pasir. Beberapa gadis cantik menggunakan kaca mata hitam sempat melambai-lambaikan tangan kepada kami. Itu pasti gadis-gadis yang berwisata ke Pulau Pari.
Pulau Pari cukup sederhana dan bahkan mungkin minim fasilitas. Bayangkan perjalanan yang menempuh waktu hampir 2 jam baik dari Tanjung Kait atau Muara Angke, bagaimana bisa tersentuh pembangunan dari Ibukota Jakarta? Kami langsung bertanya kepada penduduk setempat arah ke Pantai Pasir Perawan. Ternyata dari dermaga cukup jalan kaki kurang lebih 15 menit sudah sampai ke Pantai Pasir Perawan. Bahkan jika ingin menikmati Pantai Pasir Perawan di malam hari, ada baiknya
homestay dengan menyewa rumah penduduk seharga Rp 300.000 per malam.
Pantai Pasir Perawan cukup alami dan belum tersentuh sama sekali dengan segala kegiatan manusia. Pasirnya putih, airnya bening dan tenang. Untuk berenang mungkin cocok. Namun sama sekali tidak ada fasilitas apapun. Tenda dan gubuk yang kami tumpangi pun adalah hasil karya penduduk setempat yang menghidupi kehidupannya dari tips-tips pengunjung. Kalau Anda datang, wajib rasanya memberikan semacam tips atau uang rokok kepada penjaga di sana. Ya kurang lebih Rp 5.000 - Rp 20.000 tak ada salahnya.
Ada beberapa pondok - lebih tepatnya gubuk - yang menyediakan minuman dan es kelapa untuk kita bersantai sejenak. Yang pasti sangat-sangatlah panas luar biasa. Tidak ada fasilitas sama sekali buat kita untuk berteduh apalagi datangnya berombongan. WC umum juga tidak ada sehingga kalau lagi kebelet ingin buang hajat yang sama sekali tidak memungkinkan kecuali di semak-semak atau di bawah-bawah pohon. Bisa-bisa diintip orang. Namun menurut kami kalau malam hari rasanya bagus sekali suasana pantainya. Tenang, pasirnya putih dan romantis. Cocok buat orang yang pacaran dan memadu cinta di sana. Anda bisa melihat beberapa foto Pantai Pasir Perawan yang kami ambil di bawah ini.
Chris Redfield.
 |
| Penjual es kelapa muda yang satu-satunya tersedia di Pantai Pasir Perawan. Itu pun jualan gubuk seperti kaki-5 di Jakarta. Sangat terbatas fasilitas bahkan boleh dikatakan tidak ada sama sekali. |
 |
| Pantai Pasir Perawan tampak landai dan tenang. Perahu-perahu bisa disewa untuk mengantar Anda agak ke tengah pantai. Tetapi tidak dalam kok. |
 |
| Pemandangan Pantai Pasir Perawan. |
 |
| Berlindung di bawah pondok yang suhu udaranya sedemikian panas. Pondok ini pun satu-satunya pondok yang ada dan hasil kreasi penduduk setempat. Anda pantas memberikan kontribusi dengan memberi tips kepada penjaga atau seperti pemandu wisata gitu. |
 |
| Salah satu sudut pantai yang saya ambil fotonya dari dalam pondok. Hamparan pasir putih yang luas tampak di depan mata. |
 |
| Perjalanan pulang memancing dan berwisata ke Pulau Pari ditemani sunset. See u next time! |
Kesimpulan akhir dari kami:
memancing ikan kerapu di karang Pulau Pari sangat berkesan. Anda boleh coba sendiri. Hanya siapkan timah yang banyak. Pantai Pasir Perawan alami tetapi tidak ada fasilitas sama sekali. Bagaimana menurut Anda?
Direkomendasikan: mancing kerapu sangat direkomendasikan. Pantai Pasir Perawan tidak.