This is default featured slide 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

Hotel Oval di Surabaya

Pintu Utama Hotel Oval
Anda sering main atau berkunjung ke kota Surabaya? Kalau sering, di hotel manakah biasanya Anda menginap? Di kota Surabaya memang ada banyak sekali hotel mulai dari yang murah sampai yang mahal jutaan rupiah per malam. Sebut saja seperti Shangri-La, JW. Marriott, dsb. Tetapi semuanya dikembalikan kepada kondisi keuangan kita sendiri. Jika dompet lagi cekak tak ada salahnya menginap di hotel-hotel sederhana. Lagian cuma tidur saja kenapa mesti membuang-buang duit? Tidur sambil mendatangkan duit itu baru hebat. Yang penting kamarnya bersih, suasananya nyaman dan tenang. Adalah bonus jika pas dekat dengan tempat rekreasi seperti mall, dsb.

Beberapa waktu lalu kami sudah mereview tempat menginap di kota Surabaya yakni sebuah rumah kost yang dinamakan Graha 21. Bagi yang masih bingung mencari penginapan, bisa menginap di Graha 21 itu kok. Bisa harian, mingguan atau bulanan. Relatif lebih murah dibandingkan hotel. Untuk rating reviewnya apakah direkomendasikan atau tidak, silakan merujuk ke artikel Graha 21 tersebut. Kali ini kami ingin mereview sebuah hotel yang berlokasi di kota Surabaya. Namanya Hotel Oval atau Oval Hotel. Dan letak hotel ini tak jauh dari Graha 21 yakni di Jl. Diponegoro no. 23, Surabaya. Dengan nomor telepon: 031 - 5619998, 5679814, 5679817 dan nomor faksimili: 031 - 5613630.


Lobby depan lift
Dari namanya sudah ketahuan bentuknya dan konon Hotel Oval ini merupakan satu-satunya hotel berbentuk oval yang ada di Asia. Hotel Oval ini menjadi salah satu hotel kebanggaan atau icon kota Surabaya. Tidak seperti bangunan hotel-hotel lainnya yang rata-rata persegi tidak bermodel.

Meski hotel ini dinamakan Hotel Oval dan berbentuk oval, namun sepertinya tidak semua kamar akan berbentuk oval. Hanya kamar-kamar suite saja yang mungkin berbentuk oval. Koreksi ya kalau keliru sebab kemarin kami memesan kamar suite dan bentuknya memang oval. Mirip busur setengah lingkaran. Lingkaran itu dikelilingi oleh kaca-kaca yang kalau kita membuka tirainya akan melihat kota Surabaya yang indah. Makin tinggi kamar Anda tentu makin luas kota Surabaya yang bisa dipandang.

Kamar Hotel Oval yang kami pilih kemarin adalah tipe suite room dengan sebuah ruang tamu, kamar mandi dan tentunya tempat tidur. Secara umum situasi dan bentuk bangunan biasa saja. Bahkan boleh dibilang kotor seperti gedung tua. Tembok-tembok tampak kurang terawat. Bunyi AC yang berhembus cukup berisik. Dan kalau siang hari seperti bunyi maling yang ingin masuk ke kamar yang benar-benar bikin tidur tidak nyenyak. Setelah diselidiki ternyata masalah sambungan kusen aluminium kaca "oval" yang berderak-derak kena panas matahari. Beberapa bagian juga disisipi triplek yang memuai kena panas sehingga bunyi-bunyi seperti maling atau spiderman memanjat ketinggian kamar. Sungguh tidak nyaman buat tidur.
Lobby lantai kamar Hotel Oval. Tak ada bedanya dengan apartemen
Depan lobby hotel tepatnya lift. Yang ada gambar kaca bundar itu adalah liftnya dan ada 4 unit. Tampak sedang ada pameran lukisan-lukisan pada saat kami menginap.
Tampak lobby Hotel Oval yang lebih luas ke arah resepsionis. Ada tangga mengarah ke atas sepertinya ke lounge atau fasilitas lainnya. Cuma kami tidak naik ke atas. Di depan inilah sebelah kiri depan resepsionis jika ingin sarapan. Biasanya sudah termasuk sarapan pagi buat penghuni kamar hotel.
Pelataran parkir Hotel Oval. Jalannya menanjak.
Harga kamar suite yang kami tempati itu kalau tarif normalnya bisa di atas Rp 700 ribuan per malam. Namun karena kami menggunakan voucher otomatis lebih murah. Kurang lebih Rp 500 ribuan. Anda harus tahu bahwa membeli voucher hotel untuk menginap di seluruh dunia jauh lebih hemat. Bisa hemat lebih dari 20% bahkan lebih. Jadi lain kali kalau mau menginap murah di hotel seluruh Indonesia atau luar negeri, ada baiknya beli voucher terlebih dulu. Gunakan agen tiket atau agen perjalanan yang sudah berpengalaman dan jaringan hotelnya luas. Jangan sampai ditipu agen perjalanan yang bohongan apalagi beli dari Internet. Harus lebih cerdik dan waspada. Simak pengalaman rekan-rekan lainnya di Internet yang barangkali ada seperti mengunjungi situs konsumen review ini.

Secara umum ukuran kamar memang luas, berbentuk oval, tempat tidur king size, ada lemari, sofa, meja kursi, televisi dengan saluran TV kabel, minibar dan tentunya akses wifi. Sayang akses wifinya tidak berjalan dengan baik bahkan tidak bisa diakses baik dari netbook atau ponsel karena itu seperti wifi perusahaan. Lupa nama perusahaannya. Kalau mau akses juga mesti minta kode dalam potongan kertas kecil-kecil. Sebelum mencapai kamar tidur ada semacam ruang tamu. Anda bisa melihat foto-fotonya di bawah ini.
Beginilah kamar suite Hotel Oval. Di depan adalah tirai-tirai yang dibuka akan melihat kota Surabaya. Hanya saja pemandangannya yang kami pilih kurang menarik sebab cuma terlihat pohon-pohon saja. Kalau tidur di siang hari inilah yang berbunyi berderak-derak seperti ada maling yang mau masuk atau spiderman lagi memanjat gedung.
Kamar mandi Hotel Oval. Tampak biasa saja. Hanya toilet, wastafel dan shower.
Ruang tamu kamar suite.
Soal mencari makan di sekitar hotel tidak ada. Tetapi kalau mau berjalan kaki kurang lebih 100 meter maka bisa menemukan penjualan makanan. Di seberang jalan raya ada rumah makan Padang yang akhirnya baru kami sadari ketika mencari makan dengan taksi. Taksi yang ditawarkan dari hotel adalah perusahaan taksi berarmada tua. Sama seperti hotel lainnya yang sudah bekerjasama dengan manajemen hotel. Kalau mau menggunakan taksi-taksi yang lebih bagus seperti Bluebird, Orange, atau Cipaganti, wajib menunggu di depan jalan raya. Kalau meminta petugas hotel mencari taksi, tetap saja yang dicari adalah armada-armada tua tersebut. Tetapi karena kota Surabaya tidak seluas Jakarta, naik taksi apa saja menurut kami tidak masalah. Sebentar juga sampai kok. Asal supirnya ramah, tahu jalan, mengemudi dengan baik dan yang penting tidak bau badan. Tahu sendiri kan kadang pas kita buka pintu dan mau masuk ke taksi aduh jubilee wanginya.

Kami juga sempat memesan makanan di Hotel Oval tetapi rasanya biasa saja. Bahkan boleh dibilang kurang enak. Sayang tidak sempat kami foto buat Anda karena keburu lapar. Jadi main sikat saja tuh sop buntut seharga Rp 51.600, telor mata sapi 2 butir @ Rp 17.500 dan air mineral merek Cheer's seharga @ 12.000. Tetapi bisa dicharge dari deposit kok karena pada waktu cek in harus menempatkan deposit. Jill Valentine.

Kesimpulan akhir dari kami: Hotel Oval Surabaya ya bolehlah. Lokasinya yang terletak di jalan Diponegoro dekat ke mana-mana. Dari jauh hotel ini terlihat megah namun biasa-biasa saja. Bukan hotel berkelas. Bagaimana menurut Anda?

Direkomendasikan: tidak.

Nonton Bola di Gelora Bung Karno

Tiket Nonton Timnas
Anda pernah nonton bola di Stadion Gelora Bung Karno? Kalau belum mungkin review kali ini bisa memberikan masukan tentang suasana atau gambaran sekilas stadion tercinta kita ini. Sebab banyak acara-acara pertandingan sepakbola yang digelar di stadion yang berlokasi di kawasan Senayan Jakarta ini.

Pertandingan Timnas U23 vs Galaxy LA

Kemarin sore kami menonton pertandingan sepakbola antar timnas U23 dengan Galaxy LA. Sudah pasti acara ini menarik karena ada sosok kehadiran mantan bintang kesebelasan setan merah (Manchester United) David Beckham. Namun dalam pertandingan kemarin sepertinya hanya ceremonial saja. Si bintang lapangan David Beckham hanya mengoper-oper bola dan bukan menjadi kapten kesebelasan di lini depan. Makanya hasil pertandingan cuma 1 - 0. Kalau Galaxy bermain serius mungkin bisa 4 - 0. Tetapi inilah acara hiburan yang disebut dengan Galaxy LA Asia Pasific Tour 2011. Tentu saja official sepakbola Indonesia berharap Timnas bisa menambah pengalaman bermain dan kepercayaan diri dari tim sepakbola asing yang secara fisik berbeda stamina, latihan, fasilitas dan pengalaman.

Meski bermain santai, terlihat David Beckham merupakan pemain bola yang profesional dan berpengalaman. Dari cara beliau mengoper bola memang sudah terlihat adalah pemain yang sangat hebat. Mungkin di masa jaya beliau waktu di MU sungguh luar biasa. Tendangannya bak roket yang disebut dengan tendangan pisang di  mana arah bola bisa berbelok sedemikian rupa menjebol gawang. Bisa Anda saksikan sendiri di Youtube atau tayangan televisi.
Kami berangkat dari Tomang ke arah Slipi. Setelah melewati Slipi tentu paling bagus naik jembatan layang ke arah Senayan tepatnya TVRI atau Gedung Karsa Pemuda. Tak begitu jauh kurang lebih 50 meter dari jembatan layang sudah merupakan pintu masuk ke Gelora Bung Karno. Biasanya kalau pergi mengunjungi pameran atau book fair juga melewati jalan yang sama. Anda bisa melihat fotonya di bawah ini. Memang masih ada pintu masuk alternatif tetapi biasanya orang-orang lebih suka menggunakan pintu masuk satu ini. Mungkin lebih gampang dilewati dari berbagai arah.
Pintu masuk stadion Gelora Bung Karno (GBK). Kami masuk dari pintu satu ini yang menghadap stasiun TVRI atau Gedung Karsa Pemuda. Mobil motor bisa masuk dari sini. Tentu ada banyak alternatif pintu masuk lainnya. Sekali masuk menggunakan motor Rp 2.000. Nanti pas mau keluar lagi bisa memberikan tips kepada petugas parkir Rp 2.000 lagi.
Tampak foto dari atas stadion Gelora Bung Karno. Di sepanjang halaman ini banyak sekali penjual pernak pernik sepakbola. Paling ujung ke depan adalah pintu masuk yang kami tampilkan fotonya di atas foto ini.
Sampai di sana sore hari sudah penuh penonton. Sayangnya tidak sepenuh laga antara Timnas versus Malaysia beberapa waktu lalu. Bisa jadi harga tiket yang mahal atau masalah apa. Yang pasti kami beli tiket kelas III seharga Rp 75.000. Anda belum dapat tiket sebenarnya gampang saja. Di sana banyak calo-calo penjual tiket dan rata-rata ditawarkan Rp 100.000 per tiket untuk kelas III. Beda sedikit tidak masalah daripada harus antri berdesak-desakan beli tiket di loket resmi. Anggap saja Rp 25.000 adalah kerja keras si penjual tiket. Hidup di Indonesia ini kalau punya banyak uang sangat mengasikkan. Di semua pelayanan umum selalu ada calo atau petugas resmi yang bisa disuruh jadi calo. Yang penting kocek dipertebal saja. Kalau dipertebal dari hasil keringat halal ya tidak masalah, asal jangan hasil korupsi.

Di sepanjang pintu masuk ada banyak sekali penjual asesoris bola seperti  kaos, stiker, syal, dsb. Penjual minuman makanan sudah pasti. Namun sayangnya situasi area halaman semuanya full sampah di mana-mana. Mungkin inilah potret negara Indonesia atau Ibukota tercinta. Bagaimana membuat masyarakat bisa berdisiplin ya? Mungkin harus ditindak keras dan tegas seperti yang pernah diterapkan negara Singapore pada awal-awal pembenahan kota. Di mana warga yang ketahuan membuang sampah atau meludah sembarangan langsung digampar oleh tentara atau polisi. Buktinya sekarang Singapore menjadi salah satu kota terbersih di dunia.
Beginilah depan stadion Gelora Bung Karno. Hari masih sore baru sekitar jam 5. Di depan adalah pintu masuk ke stadion. Jadi ada 2 penjagaan yakni dari pintu halaman masuk ke stadion. Lalu penjagaan masuk stadionnya itu sendiri.
Seorang rekan kami berfoto di depan stadion Gelora Bung Karno. Anda bisa melihat tampak sampah berceceran di mana-mana. Sungguh sangat menyedihkan.

Stadion tercinta kita ini sudah berdiri sejak zaman orde lama. Bisa Anda bayangkan betapa hebatnya Indonesia pada waktu dulu. Makanya disebut Gelora Bung Karno, di mana presiden pertama kita (Alm.) Ir. Soekarno begitu membakar semangat rakyatnya untuk bisa mandiri dan tidak bergantung pada negara-negara besar. Namun sayang, sekarang Indonesia bahkan kalah dengan Malaysia dan Singapore. Padahal dulunya Indonesia adalah negara besar di Asia. Melihat rupa dari stadion Gelora Bung Karno (GBK), kita akan melihat saksi bisu betapa hebat dan luar biasa negara Indonesia. Tetapi sayang stadion ini tidak terawat sama sekali dan lebih sedihnya tidak ada lagi pemimpin besar seperti (Alm.) Ir. Soekarno dan (Alm.) Ali Sadikin.
Inilah stadion olah raga tercinta kita semua. Bukan old trafford tetapi mungkin old ganefo. Stadion yang dibangun pada masa kepemimpinan (Alm.) Ir. Soekarno.
Sampah di mana-mana, lantai yang kotor, ubin yang retak, coret-coret di tembok, tai burung walet atau sriti yang tidak pernah dibersihkan, bangku-bangku yang kotor, dsb. Bahkan untuk urusan buang hajat saja amburadul. Air kencing di mana-mana bahkan dalam botol-botol minuman. Toilet tidak dibuka semua otomatis penontong kecing di sembarang tempat. Tidak tahu kalau kelas I atau VVIP. Semuanya menjadi cermin betapa negara ini tidak dipedulikan oleh bangsanya sendiri. Padahal inilah stadion termegah dan termewah pada zamannya dan mungkin saat ini termasuk stadion yang paling besar di Asia Tenggara. Dan konon bisa menampung lebih dari 80.000 penonton. Cuma saat kemarin pertandingan Timnas dan Galaxy terlihat sepi. Mungkin sekitar 20.000 penonton saja. Anda bisa melihat fotonya di bawah ini.
Stadion tampak sepi dan lengang. Penonton pertandingan Timnas vs Galaxy tidak penuh. Jadi bisa semaunya kita memilih tempat duduk.
Situasi stadion menjelang laga timnas vs David Beckham, dkk. Tampak sebelah kanan dari tempat kami duduk. Terlihat sepi. Bagian bawah yang berwana kuning diapit biru adalah kelas VIP serta VVIP. Biasanya pejabat seperti menteri atau presiden selalu duduk nonton di sana.
Laga Timnas vs Galaxy LA. Beginilah kalau menonton dari kelas III Gelora Bung Karno. Tampak jauh sekali. Tetapi ini cuma dari foto yang diambil dari Blackberry kok. Kalau nonton langsung cukup puas dan tidak sekecil apa yang ditampikan dalam foto.
Yang lucu kemarin adalah tiap kali David Beckham mengoper bola akan dielu-elukan dengan suara, "Huuuuuu..". Padahal waktu pertama kali David Beckham nongol seluruh penonton bertepuk tangan dan bergembira. Begitu juga pada saat David Beckham diganti pemain cadangan tepuk tangan baru kembali bergema. David Beckham memang menjadi daya tarik tersendiri. Soal suara-suara terompet dan kilatan lampu blitz dari kamera pasti tiada pernah berhenti. Kurang lebih itulah pengalaman kami menonton bola di Stadion Gelora Bung Karno (GBK). Ayo Indonesia bisa! Chris Redfield.

Kesimpulan akhir dari kami: Stadion Gelora Bung Karno masih tampak megah dan gagah. Mencerminkan betapa bangsa ini pernah berjaya pada masanya dan disegani bangsa lain. Tetapi sekarang amburadul dan kotor sekali. Hanya rasa persatuan kesatuan tanpa SARA yang masih tampak setiap kali timnas bertanding dengan tim sepakbola negara lain. Bagaimana menurut Anda?

Direkomendasikan: tidak.

Nasi Campur LCK Kampus Untar 2

LCK Cafe Bakmi Bangka
Kemarin kami coba makan siang di Prima Food Court yang terletak di lantai 6-7 Kampus Untar II, Grogol - Jakarta Barat. Ternyata tempat makan satu ini meski secara khusus diperuntukkan buat kalangan mahasiswa-mahasiswi Untar, namun orang luar juga boleh datang makan. Banyak kok dosen, karyawan-karyawati dari perkantoran sekitar Daan Mogot, Tanjung Duren dan Mal Ciputra yang makan di Prima Food Court ini. Jadi pada waktu kami datang suasana lagi ramai-ramainya.

Lantai 6 terasa lebih panas sedangkan lantai 7 lebih adem karena ada AC. Di sini juga ada fasilitas wifi meski tidak kami coba. Setelah berputar-putar melihat aneka makanan dan bermacam-macam kantin, akhirnya kami memilih yang bernama Cafe LCK. Anda bisa melihat fotonya di samping. Ada tulisan Bangka, berarti pasti masakan Bangka. Kurang lebih begitu meski menunya relatif sama dengan yang lainnya di mana tidak ada ciri khas masakan Bangka yang biasa terkenal akan ikan pari asam pedas, babi panggang (bapang), dsb.Yang lebih menyolok mungkin ada menu Bakmi Bangka meski tidak sempat kami coba.


Kalau tidak keliru juga ada cabang di Apartemen Mediterania Tanjung Duren. Tetapi mungkin sudah tutup barangkali. Padahal dulu di Medit juga sangatlah ramai. Sepertinya nama LCK sudah cukup terkenal. Makan nasi campur LCK relatif cukup murah bahkan tidak dibedakan apakah yang makan mahasiswa atau karyawan kantor. Sebenarnya kurang cocok disebut nasi campur melainkan nasi rames. Kalau nasi campur itu yang ada babi merah, telor kecap, babi panggang, ayam, sosis, dsb. Yang disajikan dengan kuah angkak atau kuah sayur asin.

Satu porsi makan di sini untuk 3 macam lauk yang sudah paket cukup merogoh kocek Rp 11.000. Untuk 4 macam lauk harganya Rp 14.000 di mana bisa kita pilih sendiri sesuka kita. Mau dua menu juga bisa yakni Rp 9.000. Mau membeli sayurnya saja juga bisa per porsi Rp 3.000. Benar-benar menu untuk anak mahasiswa. Menunya banyak sekali karena itu tidak bisa kami sebutkan satu per satu. Bahkan ada juga menu hot plate seperti chicken katsu, omelet, chicken cordon bleu, chicken steak, dsb. Namun kami lebih suka menu nasi campur ini. Anda bisa melihat sendiri fotonya yang kami jepret dari samping secara sembunyi-sembunyi. 
Inilah menu masakan Cafe LCK yang seabrek. Makan ternyata bisa membuat kita mati  keenakan dan kegemukan gak bisa jalan. Habis semuanya terasa nikmat dan enak. Wuih! Saking banyaknya tidak bisa kami sebutkan satu per satu.
Menu masakan menurut penuturan pemilik jika habis akan dimasak yang baru dan disesuaikan dengan jam istirahat mahasiswa. Kalau nasi putih kurang tinggal minta dan akan ditambahkan. Wuih enak bener. Terus kita juga bisa meminta air teh atau air putih secara gratis. Servis memang sangat memuaskan di samping rasa masakan yang sangat lezat. Beda jauh dengan masakan Pondok Hari Hari yang juga sudah pernah kami review. Pantesan pas kalau lagi ramai minta ampun juga antriannya. Cuma pelayanan sangat cepat sehingga antrian bisa cepat diatasi.

Saya secara pribadi kemarin memesan 4 macam lauk yakni: kikil sapi, kangkung cah terasi, tauge cah tahu kuning dan telor balado. Total Rp 14.000. Anda bisa melihat fotonya tampak di bawah ini. Dan rasanya benar-benar makyus dan sebanding dengan harganya. Ternyata jual makanan di kampus juga menjadi salah satu lahan mencari uang yang jarang dipikirkan orang. Menjual makanan tidak ada istilah hutang seperti membuka usaha lainnya. Jadi jangan coba-coba menjual nasi campur di Kampus Untar 2 jika menu Anda kalah dari LCK ini. Ada Wong.
Inilah menu makan siang yang saya santap dengan 4 lauk seharga Rp 14.000. Rasanya mantap dan pas di lidah. Bisa pilih 2 menu (Rp 9.000), 3 menu (Rp 11.000) atau 4 menu (Rp 14.000). Lebih juga boleh kayaknya.
Tempat jualan di mana ada mahasiswi cantik yang sedang membeli makanan. Siapa ya nama gadis cantik ini? Anggun sekali dan semoga sifatnya juga baik. Sudah punya pacar apa belum ya? Ada yang tahu atau barangkali nomor HP atau PIN BB-nya? Mau dong! Bagi yang sedang jomblo boleh tuh deketin.
Suasana Prima Foodcourt Untar lantai 7. Tampak ramai sekali dan banyak mahasiswa-mahasiswi Untar sedang istirahat dan jam makan siang.
Kesimpulan akhir dari kami: Nasi Campur LCK rasanya sangat memuaskan meski bukan menu masakan Bangka sesuai namanya. Harga juga cocok buat kantong apalagi ukuran mahasiswa. Cuma kalau datang jangan pas jam istirahat mahasiswa sebab akan ramai sekali. Bagaimana menurut Anda?

Direkomendasikan: sangat direkomendasikan.

Pantai Pasir Perawan Pulau Pari

Pantai Pasir Perawan
Review konsumen kali ini menampilkan perjalanan berwisata ke Kepulauan Seribu. Seperti Anda ketahui bahwa Kepulauan Seribu merupakan salah satu tempat alternatif berwisata bagi warga Jakarta dan sekitarnya selain ke Anyer, Puncak, Bandung atau mungkin ke luar kota. Kali ini kami berwisata sambil memancing. Jadi kalau Anda ingin menyebut review kali ini sebagai "review tempat wisata" atau "review spot memancing", keduanya mungkin cocok. Buat Anda yang hobby memancing dan juga senang bertamasya, mari kita mulai. 

Memancing Ikan Kerapu di Kepulauan Seribu

Bagi yang suka memancing, tentu ada banyak pilihan tempat memancing dan tentunya berbagai jenis ikan yang bisa dipancing. Dalam acara televisi Mancing Mania yang ditayangkan Trans7 kita bisa melihat instruktur mancing yang sudah sedemikian piawai dan berpengalaman membagikan tips trik memancing seperti Mas Bayu Noor, Bapak Dudit Widodo, dsb. Ada banyak spot pancing yang diinformasikan kepada kita dari seluruh penjuru nusantara dengan berbagai teknik memancing seperti casting, trolling, popping, jigging, dsb.

Beberapa hari yang lalu kami mencoba mengadu peruntungan dan hobby memancing di Kepulauan Seribu. Karena hanya sekadar hobby tentu saja kami tidak membutuhkan alat-alat pancing yang sedemikian lengkap yang harganya bisa puluhan juta. Siapa bilang hanya pehobby golf yang peralatannya puluhan juta? Kami tidak memancing ikan-ikan besar atau menggunakan teknik seperti yang ditayangkan di acara Mancing Mania. Ya hanya sekadar hobby saja di sela-sela kepenatan kerja di Ibukota.
Berangkat dari Tanjung Kait. Sewa kapal seperti ini cukup Rp 400.000 satu trip memancing dari jam 6 pagi - 6 sore. Sediakan juga makanan minuman buat awak kapal. Total kami berenam.
Seorang rekan strike ikan kerisi. Sebelum mencapai Pulau Pari kami juga memancing di tengah laut. Ada beberapa jenis ikan yang berhasil diangkat salah satunya adalah ikan kerisi ini.

Memilih kepulauan seribu sebagai spot memancing hanya karena alasan memang dekat dengan tempat tinggal kami yakni di Jakarta. Kami berangkat dari rumah jam 4 pagi menuju Tanjung Kait di propinsi Banten wilayah Tangerang. Sampai di sana kurang lebih jam 6 pagi dan matahari masih malu menunjukkan batang hidungnya. Perjalanan butuh waktu satu jam lebih. Maklum karena kami berkendara tidak begitu cepat. Lagian menggunakan mobil sedan yang harus dikemudikan pelan-pelan karena jalanan yang cukup sempit dan jelek. Kami hanya membawa peralatan pancing, sedikit makanan, box es untuk menyimpan ikan hasil pancingan. Sedangkan urusan minuman kami tinggal beli di sana.

Sewa kapal, kami menyewa kapal seharga Rp 400.000 untuk sekali trip perjalanan memancing dari jam 6 pagi hingga jam 6 sore. Kurang lebih 12 jam. Cukuplah untuk sekadar melepas hobby. Sedangkan untuk umpan yakni udang mati dan udang hidup kami pesan di sana. Tinggal pesan kepada penyedia kapal dan akan disediakan begitu kita datang. Jadi tinggal terima beres dan siap menarik ikan. Hanya saja pilihlah penyedia sewa kapal yang ramah dan juga hobby memancing. Dengan demikian Anda baru mendapatkan pelayanan yang baik dan menyenangkan. Sebab kadang ada juga yang malas untuk melempar jangkar pindah-pindah spot. Padahal jika penyewa tidak puas memancing sama artinya mematikan bisnis sendiri. Kalau pemancing puas, maka tiap minggu pasti akan datang dan sewa kapal lagi. Kurang lebih begitulah sedikit ilmu marketing buat Anda yang berbisnis sewa menyewa kapal buat mancing.

Setelah memancing di beberapa tempat, akhirnya kami memutuskan untuk memancing ikan karang saja. Kami memancing ikan kerapu di sekitar karang yang ada di Pulau Pari. Di lokasi yang sama, Anda juga bisa menjumpai beberapa orang yang sedang diving mengamati keindahan karang di bawah laut perairan Pulau Pari. Di sini kami menemukan beberapa jenis ikan kerapu dari ukuran kecil sampai sedang dengan berat kurang lebih 4 ons. Sangat cocok untuk dijadikan santapan apalagi di tim seperti menu Depot Amin Kedungsari. Anda bisa melihat beberapa aksi dan hasil pancingan kami di foto bawah ini. Kami juga menemukan beberapa jenis ikan hias yang juga ikut memangsa umpan. Ikan hias tidak perlu diambil tetapi dilempar kembali  ke habitatnya.
Inilah salah satu ikan hias di karang yang juga akan memakan umpan Anda. Kalau dapat ikan hias  begini juga tidak ada gunanya. Cantik sekali ikan hias ini. Hanya saja saran kami sebaiknya dilempar kembali untuk menjaga habitat ikan hias. Toh tidak bisa dimakan. Terkecuali Anda memang ingin membawa pulang untuk dipelihara. Namun bawa dulu semacam oksigen baterai. Jika tidak akan mati di jalan.
Ikan hias cantik lainnya yang juga bisa Anda temukan dan memakan umpan Anda. Kalau terus menerus dapat ikan hias saja tanpa ada ikan kerapu dengan pertimbangan biaya timah yang mahal, bisa kapok mancing ikan di karang.
Ikan kerapu macan ukuran 4 ons yang berhasil diangkat. Rakus sekali ikan kerapu dan asyik sekali memancingnya. Harga ikan kerapu 4 ons sudah dimasak di tim seperti di restoran-restoran seukuran ini bisa Rp 110.000 per ekor. Mahal kan?
Ikan kerapu merah juga berhasil diangkat. Ada banyak sekali jenis ikan kerapu dan cantik-cantik juga. Ada merah, ada polos, ada loreng, ada bintik-bintik, ada hitam, dsb. Tuhan memang luar biasa!
Aneka jenis ikan yang juga berhasil kami pancing. Rata-rata semuanya ikan kerapu, bukan? Pokoknya memancing kerapu di seputar karang Pulau Pari sungguh berkesan.

Satu hal yang harus Anda ingat bahwa jika memancing di karang seperti ikan kerapu, siap-siap saja membawa timah mancing yang lebih banyak. Sudah pasti risikonya ada mata kail tersangkut di karang. Lempar 10 kali pasti nyangkut minimal 2 kali. Kalau satu butir timah seharga Rp 8.000, bisa Anda bayangkan jika nyangkut 20 kali. Kalikan saja biaya timah yang bisa sampai Rp 200.000 - Rp 400.000 sekali mancing. Jadi memancing di karang untuk ikan kerapu dan sejenisnya butuh biaya besar. Satu kilo timah pancing kami beli seharga Rp 30.000 - Rp 40.000 dan mendapatkan kurang lebih 5 - 7 biji. Mancing ikan kerapu berempat berikut awak kapal menjadi 6 orang bisa menghabiskan 40 butir timah. Kalikan saja biayanya. Mahal sekali bukan?

Tetapi ikan kerapu di karang Pulau Pari memang sungguh mantap! Begitu rakus dan begitu dilempar pasti ada yang memangsa umpan. Pokoknya seru sekali. Pengalaman memancing kerapu yang tak pernah dibayangkan sebelumnya. Paling bagus jika Anda bisa memandu awak kapal untuk mengitari sepanjang karang yang cukup luas. Pasti akan mendapatkan sensasi memancing yang puas. Tetapi ingat: timah dan timah...


Setelah urusan memancing selesai, kami menuju ke Pulau Pari. Karena juga ingin mengunjungi Pantai Pasir Perawan yang sempat ditayangkan dalam acara TV. Apa sih Pantai Pasir Perawan itu? Apakah benar ada gadis perawan di Pulau Seribu? Cantik tidak gadis perawan Pulau Seribu? Apakah ada hubungan antara Pantai Pasir Perawan dengan gadis perawan? Mungkin begitulah pertanyaan Anda barangkali dan kami juga menanyakan hal yang sama di dalam hati.
Dermaga Pulau Pari. Di dermaga inilah kami merapat untuk berkunjung ke Pantai Pasir Perawan.
Jalan menuju Pantai Pasir Perawan setelah melewati sekolah. Dari sini sudah sangat dekat kurang lebih 10 menit sudah sampai.
Suasana jalanan seperti gang-gang di kota Jakarta. Tampak rumah-rumah penduduk yang ramah di samping kanan kiri jalan. Anda bahkan bisa diledek oleh beberapa gadis dan ibu-ibu, "Mas, semoga dapat gadis perawan di pantai ya?"
Perahu merapat di sisi kanan dari sebuah dermaga kecil. Tampak beberapa wisatawan yang datang berombongan dari Muara Angke. Katanya memang lebih enak berangkat dari Muara Angke karena dekat dengan Jakarta. Biaya sekali jalan kurang lebih Rp 25.000. Tapi maklum karena kami tujuannya memancing jadi dari Tanjung Kait. Sewa kapal juga lebih murah daripada Muara Angke atau Tanjung Pasir. Beberapa gadis cantik menggunakan kaca mata hitam sempat melambai-lambaikan tangan kepada kami. Itu pasti gadis-gadis yang berwisata ke Pulau Pari.

Pulau Pari cukup sederhana dan bahkan mungkin minim fasilitas. Bayangkan perjalanan yang menempuh waktu hampir 2 jam baik dari Tanjung Kait atau Muara Angke, bagaimana bisa tersentuh pembangunan dari Ibukota Jakarta? Kami langsung bertanya kepada penduduk setempat arah ke Pantai Pasir Perawan. Ternyata dari dermaga cukup jalan kaki kurang lebih 15 menit sudah sampai ke Pantai Pasir Perawan. Bahkan jika ingin menikmati Pantai Pasir Perawan di malam hari, ada baiknya homestay dengan menyewa rumah penduduk seharga Rp 300.000 per malam.

Pantai Pasir Perawan cukup alami dan belum tersentuh sama sekali dengan segala kegiatan manusia. Pasirnya putih, airnya bening dan tenang. Untuk berenang mungkin cocok. Namun sama sekali tidak ada fasilitas apapun. Tenda dan gubuk yang kami tumpangi pun adalah hasil karya penduduk setempat yang menghidupi kehidupannya dari tips-tips pengunjung. Kalau Anda datang, wajib rasanya memberikan semacam tips atau uang rokok kepada penjaga di sana. Ya kurang lebih Rp 5.000 - Rp 20.000 tak ada salahnya.

Ada beberapa pondok - lebih tepatnya gubuk - yang menyediakan minuman dan es kelapa untuk kita bersantai sejenak. Yang pasti sangat-sangatlah panas luar biasa. Tidak ada fasilitas sama sekali buat kita untuk berteduh apalagi datangnya berombongan. WC umum juga tidak ada sehingga kalau lagi kebelet ingin buang hajat yang sama sekali tidak memungkinkan kecuali di semak-semak atau di bawah-bawah pohon. Bisa-bisa diintip orang. Namun menurut kami kalau malam hari rasanya bagus sekali suasana pantainya. Tenang, pasirnya putih dan romantis. Cocok buat orang yang pacaran dan memadu cinta di sana. Anda bisa melihat beberapa foto Pantai Pasir Perawan yang kami ambil di bawah ini. Chris Redfield.
Penjual es kelapa muda yang satu-satunya tersedia di Pantai Pasir Perawan. Itu pun jualan gubuk seperti kaki-5 di Jakarta. Sangat terbatas fasilitas bahkan boleh dikatakan tidak ada sama sekali.
Pantai Pasir Perawan tampak landai dan tenang. Perahu-perahu bisa disewa untuk mengantar Anda agak ke tengah pantai. Tetapi tidak dalam kok.
Pemandangan Pantai Pasir Perawan.
Berlindung di bawah pondok yang suhu udaranya sedemikian panas. Pondok ini pun satu-satunya pondok yang ada dan hasil kreasi penduduk setempat. Anda pantas memberikan kontribusi dengan memberi tips kepada penjaga atau seperti pemandu wisata gitu.
Salah satu sudut pantai yang saya ambil fotonya dari dalam pondok. Hamparan pasir putih yang luas tampak di depan mata.
Perjalanan pulang memancing dan berwisata ke Pulau Pari ditemani sunset. See u next time!

Kesimpulan akhir dari kami: memancing ikan kerapu di karang Pulau Pari sangat berkesan. Anda boleh coba sendiri. Hanya siapkan timah yang banyak. Pantai Pasir Perawan alami tetapi tidak ada fasilitas sama sekali. Bagaimana menurut Anda?

Direkomendasikan: mancing kerapu sangat direkomendasikan. Pantai Pasir Perawan tidak.

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...